NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Amerika Serikat bersiap menghadapi gelombang protes terbesar tahun ini. Pada Sabtu (28/3/2026), jutaan orang diperkirakan memadati jalan-jalan di berbagai penjuru negeri dalam aksi demonstrasi nasional bertajuk “No Kings”. Gerakan akar rumput ini menjadi simbol perlawanan terhadap gaya kepemimpinan Presiden Donald Trump yang dianggap kian otoriter di masa jabatan keduanya.
Sentimen kemarahan publik kali ini dipicu oleh akumulasi kebijakan kontroversial, mulai dari penggunaan dekrit eksekutif yang agresif hingga keterlibatan militer AS dalam konflik berkepanjangan di Iran bersama Israel.
Dari Kota Besar hingga Pelosok Desa
Pihak penyelenggara menyatakan bahwa lebih dari 3.000 titik aksi telah disiapkan secara serentak. Fenomena ini menunjukkan pergeseran peta politik, di mana dua pertiga calon demonstran dilaporkan berasal dari luar kota besar wilayah yang biasanya menjadi basis pendukung tradisional.
Randi Weingarten, Presiden Federasi Guru Amerika, menyoroti kecemasan ekonomi dan sosial yang mendasari gerakan ini.
“Amerika sedang berada di titik balik. Orang-orang merasa takut, dan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok. Sudah saatnya pemerintah mendengarkan dan membantu mereka membangun kehidupan yang lebih baik, alih-alih memicu kebencian dan ketakutan,” tegas Weingarten.
Minnesota: Episentrum Perlawanan dan Balada Springsteen
Negara bagian Minnesota menjadi sorotan utama dalam aksi kali ini. Wilayah utara AS tersebut masih menyimpan luka mendalam akibat tindakan keras terhadap imigran yang berujung maut pada Januari lalu.
Musisi rock legendaris Bruce Springsteen dijadwalkan tampil di St. Paul untuk menyuarakan kritik lewat lagu. Ia akan membawakan “Streets of Minneapolis,” sebuah balada yang ditulis khusus untuk mengenang Renee Good dan Alex Pretti, dua warga sipil yang tewas tertembak oleh agen ICE saat aksi protes awal tahun ini.
Kritik Atas Eskalasi Militer
Selain isu domestik, kebijakan luar negeri Trump menjadi bahan bakar utama demonstrasi “No Kings” ketiga ini. Naveed Shah dari Common Defense, sebuah asosiasi veteran, menyatakan kekecewaannya terhadap arah pemerintahan yang dinilai mengabaikan nilai-nilai demokrasi demi ambisi pribadi.
“Sejak terakhir kali kami berdemonstrasi, pemerintahan ini telah menyeret kami lebih dalam ke dalam perang,” ujar Naveed Shah.
“Di negeri kita sendiri, kita telah menyaksikan warga sipil dibunuh di jalanan oleh pasukan bersenjata. Kita telah melihat keluarga-keluarga terpecah belah dan komunitas imigran menjadi sasaran. Semua itu dilakukan atas nama seorang pria yang berusaha memerintah layaknya seorang raja,” lanjutnya.
Momentum Jelang Pemilu Tengah Periode
Aksi ini berlangsung saat tingkat dukungan publik terhadap Trump berada di titik rendah, yakni sekitar 40 persen. Dengan pemilu tengah periode yang akan digelar pada November mendatang, aksi “No Kings” menjadi ujian krusial bagi Partai Republik untuk mempertahankan kendali atas parlemen.
Gerakan yang dimulai sebagai aksi protes sederhana pada Juni 2025 kini telah bertransformasi menjadi kekuatan oposisi nasional yang terorganisir, menantang setiap jengkal kebijakan gedung putih yang dianggap mengancam tatanan demokrasi Amerika.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com













