NARASITODAY.COM,BARCELONA – Bagi Noelia Castillo, dunia adalah ruang gelap tanpa pintu keluar. Setelah bertahun-tahun terjebak dalam trauma kekerasan, gangguan mental, dan kelumpuhan fisik, perempuan berusia 25 tahun asal Spanyol ini akhirnya menemukan “ketenangan” yang ia cari. Pada Kamis (26/3/2026), permintaan eutanasia Castillo resmi dikabulkan, mengakhiri perjalanan hidupnya yang penuh gejolak.
Kisah Castillo bukan sekadar berita kematian medis tapi ini adalah potret perdebatan moral dan hukum yang mengguncang Spanyol sejak ia pertama kali mengajukan permohonan pada 2024.
Rentetan Trauma yang Melumpuhkan
Kehidupan Castillo mulai retak sejak usia 13 tahun pasca-perceraian orang tuanya. Ia didiagnosis menderita gangguan obsesif kompulsif (OCD) dan gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder). Namun, luka batinnya semakin dalam akibat serangkaian pelecehan seksual tragis yang dialaminya mulai dari mantan kekasih hingga pemerkosaan oleh orang tak dikenal di sebuah klub malam dan bar.
Keputusasaan membawanya pada percobaan bunuh diri yang gagal, namun meninggalkan konsekuensi permanen: kelumpuhan yang memaksanya bergantung pada kursi roda.
“Tidur sangat sulit bagi saya. Saya juga mengalami sakit punggung dan kaki,” tutur Castillo dalam wawancara emosional dengan saluran Antena 3 sebelum kematiannya. “Dunia saya sangat gelap. Saya tidak punya tujuan, tidak punya sasaran, tidak punya apa-apa.”
Pertempuran Hukum di Lima Tingkat Peradilan
Spanyol memang telah melegalkan eutanasia sejak 2021, namun jalan Castillo menuju maut tetap berliku. Komisi Jaminan dan Evaluasi Catalonia sebenarnya telah memberi lampu hijau pada Juli 2024, menilai kondisi klinis Castillo tidak dapat dipulihkan dan penderitaannya bersifat kronis yang melumpuhkan.
Namun, sang ayah berdiri sebagai penghalang terakhir. Ia menempuh jalur hukum di lima tingkat peradilan mulai dari Pengadilan Barcelona hingga Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa untuk membatalkan keputusan tersebut. Castillo, yang mengaku tidak memiliki hubungan dekat dengan ayahnya, merasa upaya tersebut justru menambah penderitaannya.
“Saya mengerti dia seorang ayah, bahwa dia tidak ingin kehilangan putrinya,” ujar Castillo. “Tapi dia mengabaikan saya. Jadi, mengapa dia ingin saya tetap hidup? Untuk menahan saya di rumah sakit?”
Detik Terakhir dalam Keheningan
Setelah semua lembaga peradilan menolak gugatan sang ayah, Castillo akhirnya memegang kendali penuh atas nasibnya. Di hari-hari terakhirnya, ia menyampaikan pesan singkat namun tajam mengenai kelegaannya bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu dan keluarga yang dianggapnya sebagai beban tambahan.
“Akhirnya aku berhasil, dan sekarang mungkin aku akhirnya bisa beristirahat. Aku tidak tahan lagi dengan keluarga ini, aku tidak tahan lagi dengan rasa sakit ini, aku tidak tahan lagi dengan semua yang menyiksa pikiranku,” ungkapnya.
Menjelang prosedur medis tersebut, Castillo memilih untuk pergi sendirian. Ia mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya namun meminta ruang tertutup saat ajal menjemput.
“Aku tidak ingin ada orang di dalam kamarku. Aku tidak ingin mereka melihatku memejamkan mata,” pungkasnya.
Keputusan Castillo kini meninggalkan diskusi panjang di Spanyol mengenai batas-batas hak individu atas tubuh sendiri versus peran keluarga dalam menghadapi gangguan mental yang parah.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














