NARASITODAY.COM, FUJAIRAH – Suasana tenang di perairan lepas pantai Uni Emirat Arab (UEA) mendadak pecah pada Senin (4/5/2026), setelah sebuah kapal tanker melaporkan telah dihantam oleh proyektil tak dikenal. Insiden ini terjadi tepat di tengah memanasnya urat syaraf antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait kontrol jalur maritim paling strategis di dunia.
Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan bahwa serangan tersebut terjadi di titik 78 mil laut sebelah utara kota Fujairah. Meski benturan proyektil menimbulkan kepanikan di atas dek, nyawa para pelaut dikabarkan masih dalam lindungan.
“Sebuah kapal tanker telah melaporkan dihantam oleh proyektil tak dikenal,” tulis UKMTO dalam keterangan resminya yang dikutip dari AFP. Badan tersebut menambahkan bahwa “semua awak kapal selamat,” namun tetap menyerukan agar kapal-kapal lain yang melintas di wilayah tersebut “melakukan perjalanan dengan hati-hati” sementara penyelidikan mendalam dilakukan.
Ketegangan di Tengah Upaya Damai
Serangan misterius ini terjadi di momen yang sangat kontradiktif. Di satu sisi, aroma mesiu masih menyengat di Selat Hormuz, namun di sisi lain, Washington dan Teheran sebenarnya tengah membuka babak baru negosiasi perdamaian sejak gencatan senjata pada 8 April lalu.
Bahkan, Presiden AS Donald Trump sempat memberikan nada optimistis setelah menerima proposal baru dari Teheran pada akhir pekan lalu. Trump menyebut telah terjadi “pembicaraan yang sangat positif” dengan pihak Iran.
Namun, kenyataan di permukaan air berbicara lain. Selama ini, Iran mempertahankan kontrol ketat atas Selat Hormuz sebagai respons atas kehadiran militer AS yang didukung Israel. Sebagai balasannya, Trump memberlakukan blokade angkatan laut yang membuat lalu lintas kapal komersial di kawasan tersebut menyusut drastis.
Armada Pengawal Mulai Bergerak
Menanggapi situasi yang terus bergejolak, Presiden Trump mengumumkan bahwa mulai Senin ini, militer AS akan secara aktif mengawal kapal-kapal komersial yang melintasi selat tersebut. Tidak main-main, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengerahkan kekuatan tempur yang masif.
Lebih dari 15.000 personel militer dikerahkan, didukung oleh kapal perusak rudal berpemandu, lebih dari 100 pesawat tempur, hingga platform canggih tak berawak di berbagai domain. Langkah ini diambil untuk melindungi aset ekonomi yang terjebak di zona konflik.
Berdasarkan data intelijen maritim AXSMarine, tekanan konflik telah memaksa banyak perusahaan pelayaran menarik armadanya. Jika pada awal konflik terdapat lebih dari 1.100 kapal komersial di Teluk, pada 29 April lalu jumlahnya menyusut menjadi sekitar 900 kapal.
Kini, dengan adanya serangan proyektil terbaru di Fujairah, dunia pelayaran internasional kembali menahan napas. Operasi pengawalan AS akan menjadi ujian besar, apakah stabilitas bisa kembali ke jalur perdagangan minyak dunia, atau justru memicu eskalasi baru di saat meja perundingan sedang digelar.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














