NARASITODAY.COM – Di tengah semangat muda yang bergelora dalam Kongres IV Pengurus Pusat Tunas Indonesia Raya (PP Tidar), Sabtu (17/5/2025), Presiden Prabowo Subianto mengambil panggung bukan sekadar untuk memberi semangat, tapi juga menyampaikan pesan yang mengejutkan sekaligus penuh makna.
Ia tidak datang untuk dielu-elukan sebagai pemimpin dua periode. Justru, ia datang untuk meredam suara-suara yang mulai membisikkan ambisi masa depan.
“Tadi, terima kasih, ada yang sebut Prabowo dua periode. Saya kira, saya mau koreksi. Kader-kadernya muda, saya mau koreksi saudara-saudara. Please, tolong jangan sebut seperti itu. Kita belum satu tahun menjalankan amanah,” tegas Prabowo, berdiri di hadapan para kader muda partainya, Partai Gerindra.
Suasana sempat hening sejenak. Kalimat itu tak hanya menohok, tapi juga mengandung filosofi kepemimpinan yang jarang terdengar di arena politik tanah air. Di saat banyak pemimpin sibuk memupuk kekuasaan, Prabowo justru menyerukan agar para pendukungnya menyimpan niat itu dalam hati.
“Niat itu silakan disimpan dalam hati. Tetapi, saya sudah katakan, nanti yang menentukan apakah Prabowo dua periode atau tidak, selain Yang Mahakuasa, Prabowo sendiri,” ucapnya, kali ini dengan nada yang lebih tenang, namun tetap berwibawa.
Di depan generasi muda yang menjadi harapan partai, Prabowo seolah ingin membangun paradigma baru tentang kepemimpinan. Bahwa kekuasaan bukan sesuatu yang dipaksakan, melainkan sebuah amanah yang harus dibayar dengan kinerja nyata. Ia bahkan menegaskan tak akan maju kembali jika tak mampu memenuhi targetnya sendiri.
“Kalau saya menilai bahwa diri saya tidak mencapai apa yang saya canangkan, saya tidak mau maju lagi sebagai Presiden RI,” katanya, disambut sorotan mata serius dari para hadirin.
Tak berhenti di situ, pria yang juga menjabat Ketua Umum Partai Gerindra ini bahkan meminta para kadernya agar tidak memintanya kembali jika dia sendiri merasa gagal.
“Kalau seandainya saya menilai diri saya tidak berhasil, saya mohon dengan sangat, jangan saudara harapkan saya mau maju lagi. Sebagai seorang pejuang, kita hanya ingin berbuat yang terbaik untuk bangsa dan negara,” ungkapnya.
Di era politik yang penuh dinamika, pernyataan Prabowo ini menjadi semacam refleksi bahwa menjadi pemimpin bukan soal berapa lama berkuasa, tetapi seberapa besar manfaat yang bisa diberikan.***














