Mandra Luruskan Sejarah Tanjidor, Sebut Istilah yang Populer Selama Ini Keliru

0
tanjidor
seniman senior Betawi, Mandra.Foto : tribunnews.com

NARASITODAY.COM,JAKARTA – Selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia telah akrab dengan istilah “tanjidor” sebagai sebutan untuk musik tiup tradisional khas kebudayaan Betawi.

Namun, sebuah fakta mengejutkan diungkapkan oleh seniman senior Betawi, Mandra. Menurutnya, istilah yang telanjur melekat erat di benak publik dan dianggap sebagai pakem budaya tersebut sebenarnya merupakan sebuah kekeliruan yang salah kaprah.

Mandra secara blak-blakan membongkar bahwa penyebutan kata “tanjidor” yang populer hingga lintas generasi saat ini justru lahir secara tidak sengaja dari dialog dalam sinetron legendaris Si Doel Anak Sekolahan yang dibintanginya pada era 1990-an.

“Hal yang kayak begitu yang perlu dibenahi. Satu contoh macam seperti apa yang tadi situ bilang, dengan adanya sebutan tanjidor. Ini yang perlu diluruskan. Tanjidor itu dengan sebutan yang salah,” ujar Mandra saat ditemui di Studio Trans 7, kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan, kemarin.

Baca Juga :  Benny Blanco Cerita Tentang Cinta Tanpa Ego dengan Selena Gomez

Akar Kata yang Terdistorsi Waktu

Sentuhan ironi budaya terasa kuat ketika Mandra menceritakan bagaimana kesalahan pelafalan ini bergulir begitu lama di tengah masyarakat hingga akhirnya dianggap sebagai kebenaran sejarah. Mirisnya, fenomena ini tidak hanya menjangkiti masyarakat awam, melainkan juga terjadi di kalangan pelaku seni Betawi sendiri yang kurang menggali akar sejarah tradisi mereka.

“Macam kayak bahasa kata panjak, anak wayang, kan kadang maaf ya, si senimannya sendiri banyak yang salah. Ya kadang-kadang itu ya senimannya sendiri aja nggak paham. Banyak,” tutur pria berusia 59 tahun tersebut sembari menghela napas.

Mandra kemudian membedah anatomi istilah tersebut untuk meluruskan sejarah. Ia menjelaskan bahwa nama asli dari kesenian musik tiup Betawi tersebut sejatinya hanyalah “tanji”. Sementara imbuhan “dor” yang mengekor di belakangnya sama sekali bukan nama alat musik atau aliran suara, melainkan sebuah penanda pertunjukan.

Baca Juga :  Obati Rindu Wannable, Wanna One Umumkan Proyek Reuni

“Dor itu bodoran (lawakan). Kalau mungkin era sekarang tahunya… komika karena ada lawakannya,” jelas Mandra.

Jadi, istilah tersebut awalnya merujuk pada pementasan musik tanji yang diselingi dengan sesi komedi atau lawakan di atas panggung.

Lahir dari Demam Populer Era 90-an

Efek domino dari dialog layar kaca di era 90-an terbukti mampu mengubah lanskap pemahaman bahasa sebuah suku. Gema sinetron Si Doel yang begitu masif membuat penonton menyerap mentah-mentah istilah gabungan tersebut hingga akhirnya membumi di seluruh pelosok negeri.

“Kayak tanjidor. Tanjidor nggak ada. Lo mesti tahu asal usul, kok kenapa bisa disebut tanjidor? Lo kenalnya tahun berapa? Tanjidor tuh tahun berapa? 90-an mungkin, dengan kata bahasa tanjidor gara-gara Si Doel yang bilangnya tanjidor,” beber Mandra secara rinci.

Merasa memiliki utang moral dan tanggung jawab sejarah sebagai salah satu maestro yang masih aktif, Mandra kerap meluangkan waktu untuk meluruskan kekeliruan ini. Terlebih, rumahnya sering disambangi oleh akademisi, mahasiswa, hingga peneliti kebudayaan yang ingin menguji keaslian data sejarah Betawi.

Baca Juga :  Wakil Bupati Bogor Pimpin Perjalanan Sejarah, Ingatkan Peran Jasinga dalam Pembentukan Kabupaten Bogor

Ia mengingatkan bahwa khazanah kesenian Betawi itu sangat luas dan memiliki silsilah yang panjang, sehingga tidak bisa dipelajari hanya dari apa yang tampak di permukaan. Tanji hanyalah satu dari sekian banyak variasi pertunjukan yang saling berkaitan.

“Kalau ada tanjidor berarti ada lagi sebenarnya. Ada jinong, ada jipeng. Itu kan urutannya si tanjidor. Kalau lo dulu kenal cuma tanjidor doang, ya berarti ilmu lo baru sejengkal. Apalagi lo orang Betawi ngakunya, ‘Saya punya tanjidor’, ya udah… ya baru bangun tidur kali,” pungkas Mandra menutup perbincangan dengan selingan kelakar khasnya yang memancing tawa.***

Editor : Alysa

Sumber : detik.com