NARASITODAY.COM,JAKARTA – Donor darah merupakan salah satu aksi kemanusiaan yang dapat membantu menyelamatkan nyawa banyak orang. Namun, masih banyak masyarakat merasa Ragu mendonorkan darahnya karena terpengaruh berbagai mitos yang beredar. Padahal, sebagian besar anggapan tersebut tidak terbukti secara medis.
Agar tidak lagi ragu untuk menjadi pendonor, berikut lima mitos tentang donor darah yang perlu diluruskan.
Mitos 1: Donor Darah Membuat Tubuh Menjadi Lemah
Banyak orang khawatir tubuh akan menjadi lemas dan tidak bertenaga setelah donor darah. Faktanya, tubuh manusia mampu menggantikan volume plasma darah yang hilang dalam waktu sekitar 24 hingga 48 jam. Selama pendonor beristirahat cukup, mengonsumsi makanan bergizi, dan minum air yang cukup setelah donor, kondisi tubuh umumnya akan kembali normal dengan cepat.
Mitos 2: Donor Darah Bisa Menyebabkan Ketagihan
Sebagian masyarakat percaya bahwa seseorang akan “ketagihan” donor darah setelah melakukannya beberapa kali. Anggapan ini tidak benar. Donor darah tidak mengandung zat atau proses yang menyebabkan kecanduan. Keinginan untuk kembali mendonor biasanya muncul karena kesadaran sosial dan kepuasan dapat membantu sesama.
Mitos 3: Donor Darah Membuat Berat Badan Turun atau Naik
Ada pula yang beranggapan donor darah dapat memengaruhi berat badan secara signifikan. Faktanya, donor darah tidak dirancang sebagai metode menurunkan maupun menaikkan berat badan. Kalori yang terbakar saat donor relatif kecil dan tidak memberikan dampak berarti terhadap perubahan berat badan seseorang.
Mitos 4: Donor Darah Berisiko Tertular Penyakit
Ketakutan tertular penyakit menjadi salah satu alasan banyak orang menghindari donor darah. Padahal, proses donor darah dilakukan menggunakan jarum dan peralatan medis steril yang hanya digunakan satu kali. Karena itu, risiko penularan penyakit melalui prosedur donor darah yang resmi sangat kecil dan hampir tidak ada.
Mitos 5: Orang Bertato atau Bertindik Tidak Bisa Donor Darah
Mitos ini tidak sepenuhnya benar. Orang yang memiliki tato atau tindik tetap dapat mendonorkan darahnya setelah melewati masa tunggu tertentu sesuai aturan yang berlaku. Tujuannya adalah memastikan tidak ada risiko infeksi yang dapat memengaruhi keamanan darah yang didonorkan.
Donor Darah Aman dan Bermanfaat
Selain membantu pasien yang membutuhkan transfusi darah, donor darah juga memberikan manfaat bagi pendonor. Melalui proses ini, kondisi kesehatan dasar seperti tekanan darah, kadar hemoglobin, dan denyut nadi biasanya akan diperiksa terlebih dahulu. Dengan demikian, donor darah dapat menjadi salah satu cara untuk memantau kesehatan secara berkala.
Meski demikian, tidak semua orang dapat langsung mendonorkan darah. Pendonor harus memenuhi sejumlah persyaratan seperti usia, berat badan, kadar hemoglobin, serta kondisi kesehatan yang baik.
Kesimpulan
Rasa takut untuk donor darah sering kali muncul karena informasi yang keliru. Mulai dari anggapan tubuh menjadi lemah, tertular penyakit, hingga perubahan berat badan, sebagian besar hanyalah mitos yang tidak didukung fakta medis. Dengan memahami informasi yang benar, masyarakat diharapkan lebih percaya diri untuk menjadi pendonor dan turut berkontribusi menyelamatkan nyawa sesama melalui setetes darah yang sangat berharga.***
Editor : Alysa
Sumber : idntimes.com














