IMO Mulai Evakuasi 11 Ribu Pelaut Terjebak Konflik di Selat Hormuz

0
IMO
Ilustrasi Selat Hormuz.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, SELAT HORMUZOrganisasi Maritim Internasional (IMO) di bawah naungan PBB resmi memulai operasi kemanusiaan besar-besaran untuk mengevakuasi lebih dari 11.000 pelaut yang terdampar di Selat Hormuz.

Selama berbulan-bulan, para pelaut dari berbagai belahan dunia ini terjebak di dalam kapal mereka, terapung tanpa kepastian akibat konflik bersenjata yang sempat membekukan salah satu jalur urat nadi maritim global tersebut.

Berdasarkan laporan Al Jazeera, Rabu (24/6/2026), langkah darurat ini akhirnya dapat terlaksana menyusul penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kesepakatan awal ini menjadi titik balik penting demi mengakhiri perang berkepanjangan yang melibatkan kekuatan militer AS, Israel, dan Iran.

Operasi pemulihan ini membutuhkan koordinasi logistik yang rumit dan kerja sama ketat dari berbagai otoritas keamanan di wilayah Teluk demi menjamin keselamatan awak kapal yang telah lama menderita di tengah laut.

“Operasi ini dilakukan dalam kerja sama erat dengan Iran, Oman, semua negara pesisir lainnya di kawasan tersebut, Amerika Serikat, dan industri maritim,” ujar Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, dalam pernyataan resminya.

Baca Juga :  Jepang Lolos ke Semifinal Kejuaraan Beregu Campuran Asia 2025 Setelah Kalahkan India 3-0

Pihak IMO memastikan bahwa seluruh jalur pelayaran telah diperiksa secara berkala menggunakan teknologi deteksi dini sebelum kapal gelombang pertama diizinkan berlayar. Peninjauan ketat ini sangat krusial mengingat adanya sisa-sisa risiko keamanan pascaperang, seperti potensi ranjau laut atau sisa proyektil.

“We have secured the necessary safety assurances and have thoroughly verified safe navigational conditions to support this operation (Kami telah mengamankan jaminan keselamatan yang diperlukan dan telah memverifikasi secara menyeluruh kondisi navigasi yang aman untuk mendukung operasi ini),” tambah Dominguez.

Terperangkap dalam Blokade Selat

Prahara bagi para pelaut ini bermula sejak perang meletus pada akhir Februari lalu. Saat itu, Iran memberlakukan blokade total dan ketat di kawasan selat strategis tersebut sebagai bagian dari kebijakan pertahanannya. Akibatnya, ratusan kapal komersial mulai dari tanker minyak raksasa hingga kapal kontainer mendadak lumpuh dan terjebak di sepanjang perairan Teluk.

Namun, secercah harapan mulai muncul. Arus lalu lintas kapal dilaporkan mulai merangkak naik sejak draf perdamaian disepakati pekan lalu. Lembaga intelijen pengapalan, Kpler, mencatat setidaknya sudah ada 36 kapal komersial yang berhasil melintasi selat tersebut pada hari Senin kemarin.

Baca Juga :  India Kecam Serangan terhadap Kapal Tanker di Teluk Oman, Tiga Warganya Dilaporkan Hilang

Kementerian Pertahanan Oman menyatakan bahwa proses evakuasi di bawah cetak biru IMO ini sengaja dilakukan secara bertahap dan sangat hati-hati. Strategi ini dinilai sangat vital untuk menghindari kecelakaan fatal atau tabrakan antar-kapal besar di jalur yang sempat membeku tersebut.

“Mengenai tingginya risiko tabrakan dalam situasi saat ini, evakuasi lalu lintas kapal secara bertahap dan terkendali sangat diperlukan,” tegas pihak Kementerian Pertahanan Oman.

Di sisi lain, dukungan internasional untuk mengamankan kembali urat nadi perdagangan dunia mulai berdatangan dari Eropa. Denmark mengumumkan posisinya untuk bergabung dengan misi maritim internasional bentukan Prancis dan Inggris demi mengawal pembukaan kembali jalur energi vital tersebut.

Meski dinamika perundingan damai di Selat Hormuz menunjukkan tren positif bagi pemulihan ekonomi global, pemulihan total rute dagang ini diperkirakan masih memakan waktu lama. Berdasarkan pantauan langsung lapangan, ratusan kapal logistik berukuran besar masih terlihat mengantre mengular di kedua sisi selat, menunggu giliran dievakuasi.

Baca Juga :  Gelombang Badai Musim Dingin Parah Lumpuhkan Transportasi dan Mengancam Listrik di Amerika Serikat

Ironisnya, belum juga evakuasi selesai, bayang-bayang ketegangan diplomatik baru mengenai hak kelola selat mulai membayangi draf perjanjian final. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, bahkan telah tiba di Uni Emirat Arab (UEA) untuk menegaskan posisi keras Washington.

AS menolak keras wacana penarikan biaya retribusi atau “pajak lintasan” sepihak oleh pihak mana pun di jalur internasional tersebut. Rubio mengklaim sikap penolakan ini didukung penuh oleh sekutu-sekutu Arab di kawasan Teluk.

“Ini adalah jalur air internasional. Tidak ada negara yang diizinkan memungut tol atau biaya di jalur air internasional. Saya yakin semua negara di kawasan ini akan setuju,” cetus Rubio dengan nada tegas.

Namun di kubu berseberangan, Teheran langsung memasang barikade diplomasi yang tidak kalah sengit. Melalui perwakilan parlemen sekaligus negosiator ulungnya, Iran menegaskan bahwa peta kendali keamanan di Selat Hormuz telah berubah total akibat lanskap perang kemarin.

Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke status quo sebelum perang,” tegas negosiator top Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.***

Sumber : cnbcindonesia.com