Aktivis India Sonam Wangchuk Masuk RS, Aksi Protes Terhenti Sementara

0
aktivis
aktivis Sonam Wangchuk.Foto : Bharat Press Network

NARASITODAY.COM, NEW DELHI – Polisi Delhi membawa aktivis Sonam Wangchuk ke rumah sakit pada Sabtu (18/7/2026) setelah kondisi kesehatannya memburuk akibat menjalani aksi mogok makan selama 20 hari. Wangchuk melakukan aksi tersebut untuk memprotes dugaan persoalan dalam sistem ujian masuk pendidikan di India.

Wangchuk (59) mulai menjalani mogok makan sejak 28 Juni. Ia menuntut Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan mundur menyusul dugaan kejanggalan dalam pelaksanaan ujian masuk kedokteran yang memicu kemarahan publik.

Selama aksi berlangsung di kawasan Jantar Mantar, New Delhi, Wangchuk mendapat dukungan dari sejumlah mahasiswa. Beberapa ratus mahasiswa turut bergabung dalam aksi tersebut, sementara gerakan daring satir bernama Cockroach Janta Party juga ikut menyuarakan kritik terhadap pemerintah.

Setelah 20 hari berpuasa, kondisi kesehatan Wangchuk dilaporkan menurun. Polisi kemudian melakukan pemindahan ke rumah sakit berdasarkan perintah pengadilan serta rekomendasi tim medis.

Baca Juga :  NasDem Kabupaten Bogor Hadirkan Gedung Megah untuk Koordinasi Politik dan Program Publik

“Sesuai perintah … pengadilan tinggi dan atas saran medis akibat kondisi kesehatan Sonam Wangchuk yang memburuk, ia telah dipindahkan ke rumah sakit untuk perawatan medis esensial,” kata Wakil komisaris kepolisian Delhi, dikutip AFP, Sabtu (18/7).

Proses pemindahan tersebut sempat menimbulkan ketegangan di lokasi aksi. Polisi menyebut sejumlah pengunjuk rasa berupaya menghalangi petugas saat membawa Wangchuk menuju rumah sakit.

“Saat mematuhi perintah … para pengunjuk rasa berupaya menghalangi, sehingga terjadi sedikit kericuhan,” lanjutnya.

Kepolisian Delhi kemudian meminta para peserta aksi membubarkan diri secara tertib.

“Kami meminta pengunjuk rasa di Jantar Mantar untuk membubarkan diri secara damai secepatnya,” tuturnya.

Sebelumnya, Pengadilan Tinggi Delhi pada Kamis (16/7/2026) telah memerintahkan dokter pemerintah untuk melakukan pemantauan kesehatan Wangchuk setiap hari. Perintah tersebut dikeluarkan setelah pengacara aktivis Rakesh Kumar Saini mengajukan permohonan terkait kondisi Wangchuk yang dinilai berisiko apabila terus menjalani mogok makan.

Baca Juga :  Terancam El Niño, Petani India Ramai-Ramai Alih Tanam ke Kedelai

“Nyawa warga negara mana pun berharga,” kata pengadilan saat merespons petisi tersebut.

Pengadilan juga menegaskan tindakan medis yang diperlukan harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa sang aktivis.

“Intervensi medis apa pun yang diperlukan untuk menyelamatkan nyawa Sonam Wangchuk harus dilakukan,” demikian perintah Pengadilan Tinggi Delhi, Kamis (16/7).

Aksi Wangchuk berlangsung di tengah kontroversi besar terkait sistem ujian pendidikan India. Bulan lalu, sekitar 2,2 juta calon mahasiswa kedokteran harus mengikuti ujian ulang setelah ujian sebelumnya dibatalkan akibat dugaan kebocoran soal.

Masalah tersebut memicu kemarahan masyarakat karena ujian masuk kedokteran di India merupakan salah satu seleksi pendidikan paling kompetitif. Selain dugaan kebocoran soal, kekacauan dalam proses penilaian ujian sekolah menengah juga memperbesar tekanan terhadap pemerintah.

Baca Juga :  Inovasi Aplikasi NGUPAHAN dan SiGardaMas Jadi Unggulan Kabupaten Bogor Pada IGA Award 2025

Sejumlah partai oposisi dan kelompok mahasiswa menyatakan dukungan terhadap aksi Wangchuk. Mereka mendesak adanya perbaikan sistem agar proses seleksi pendidikan berjalan lebih transparan dan adil.

Wangchuk dikenal sebagai insinyur sekaligus aktivis lingkungan yang memiliki berbagai proyek konservasi air di kawasan Himalaya. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang aktif memperjuangkan isu pendidikan dan pembangunan berkelanjutan.

Beberapa jam sebelum dibawa ke rumah sakit, Wangchuk tetap menyampaikan pesan mengenai perjuangannya.

“Gerakan-gerakan yang lebih kecil telah menjatuhkan banyak pemerintahan di India … dan ini soal pendidikan,” kata Wangchuk.

Saat ini, kondisi kesehatan Wangchuk masih menjadi perhatian publik, sementara pemerintah India menghadapi tekanan untuk menanggapi tuntutan terkait reformasi sistem ujian pendidikan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com