Kasus Campak di AS Capai 2.295, Tertinggi dalam 35 Tahun Terakhir

0
Kasus campak
Ilustrasi kulit manusia yang tertutup ruam campak. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Kasus campak di Amerika Serikat (AS) melonjak menjadi 2.295 kasus sepanjang tahun ini, mencatat angka tertinggi dalam 35 tahun terakhir.

Berdasarkan pembaruan data Johns Hopkins University (JHU), jumlah tersebut menjadi rekor tahunan tertinggi sejak 1991, ketika AS masih menghadapi penyebaran campak dalam skala besar.

Mengutip laporan The Russia Today, Kamis (23/7/2026), campak merupakan penyakit infeksi virus saluran pernapasan yang sangat menular. Penyakit ini sebelumnya berhasil dinyatakan tereliminasi (eliminated) dari AS pada 2000 setelah program vaksinasi massal mampu menekan penyebarannya.

Namun, keberhasilan tersebut mulai menghadapi tantangan dalam beberapa tahun terakhir. Data JHU menunjukkan kasus campak meningkat tajam, dengan jumlah infeksi tahun ini melonjak lebih dari delapan kali lipat dibandingkan 2024.

“Individu yang tidak divaksinasi atau mereka dengan status vaksinasi yang tidak diketahui mewakili hampir seluruh kasus campak yang dilaporkan,” terang Johns Hopkins University dalam laporan pembaruannya.

Baca Juga :  Susi Pudjiastuti Usulkan Pengolahan Ikan Sapu-sapu Jadi Pakan dan Pupuk, Respons dari MUI dan Pemprov Jakarta

“Hasil ini konsisten dengan estimasi bahwa dua dosis vaksin campak memberikan perlindungan hingga 97% bagi mereka yang divaksinasi.”

Berdasarkan catatan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), angka kasus saat ini masih berada di bawah rekor tertinggi nasional pada 1991 yang mencapai 9.643 kasus. Meski demikian, peningkatan terbaru menjadi lonjakan terbesar sejak penyakit tersebut berhasil dikendalikan melalui vaksinasi.

Pusat wabah campak tahun ini terkonsentrasi di sejumlah wilayah, terutama Carolina Selatan dan Utah. Penyebaran tersebut mengikuti wabah lintas negara bagian yang sebelumnya terjadi di Texas Barat pada 2025, kemudian meluas ke New Mexico dan beberapa wilayah tetangga.

Baca Juga :  Iran Melancarkan Serangan Balasan ke Basis AS dan Israel usai Respons Agresif ke Serangan AS-Israel

“Hal itu memberi tahu kita bahwa ini merupakan dampak dari bertahun-tahun tingkat vaksinasi yang rendah di beberapa komunitas,” tegas Profesor Epidemiologi di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, William Moss.

“Ini sangat frustrasi. Ini merupakan refleksi bahwa kita tidak mampu menghentikan transmisi virus campak di negara ini,” lanjut Moss.

Para ahli kesehatan menilai kebangkitan kasus campak berkaitan erat dengan menurunnya tingkat kepercayaan sebagian masyarakat terhadap vaksin. Keraguan tersebut semakin meningkat setelah pandemi Covid-19, ketika penyebaran disinformasi kesehatan serta perdebatan mengenai kewajiban vaksinasi memicu penolakan terhadap program imunisasi di sejumlah komunitas.

Di tengah meningkatnya kasus, Menteri Kesehatan AS Robert F. Kennedy Jr. mendorong masyarakat untuk tetap menerima vaksin measles-mumps-rubella (MMR) setelah wabah campak kembali terjadi di Texas. Meski dikenal sebagai tokoh yang sebelumnya skeptis terhadap vaksin, Kennedy menyatakan keputusan imunisasi tetap berada di tangan setiap individu.

Baca Juga :  JD Vance Tuduh Ada Upaya Israel Gagalkan Negosiasi AS-Iran

“Keputusan untuk melakukan vaksinasi adalah keputusan pribadi,” tegas Kennedy Jr.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump juga menyatakan dukungannya terhadap vaksin MMR. Dalam wawancaranya dengan ABC News tahun lalu, Trump mengatakan dirinya merekomendasikan vaksin tersebut, tetapi tidak mendukung penerapan kewajiban hukum bagi masyarakat.

“Saya merekomendasikannya. Ya… Apakah saya mewajibkannya? Tidak,” tegas Presiden Trump.

Lonjakan kasus campak ini kembali menjadi peringatan bagi sistem kesehatan AS bahwa penyakit yang sebelumnya berhasil dikendalikan dapat kembali menyebar ketika tingkat imunisasi masyarakat menurun. Para ahli menilai menjaga cakupan vaksinasi tetap tinggi menjadi kunci untuk mencegah wabah meluas di masa mendatang.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com