Dampak Iklim atau Salah Urus? Pakar Soroti Akar Masalah Badai Pasir Berkepanjangan di Irak

0
Dampak Iklim atau Salah Urus? Pakar Soroti Akar Masalah Badai Pasir Berkepanjangan di Irak

NARASITODAY.COM – Pemandangan mencekam menyelimuti sejumlah wilayah di Irak dalam beberapa hari terakhir. Badai pasir dahsyat tiba-tiba menerjang, mengubah siang menjadi senja berwarna cokelat pekat.

Lebih dari sekadar pemandangan yang mengganggu, fenomena alam ini membawa dampak serius bagi kesehatan ribuan warga. Data terbaru menunjukkan bahwa tak kurang dari 3.700 orang terpaksa dilarikan ke rumah sakit akibat gangguan pernapasan yang dipicu oleh pekatnya debu yang memenuhi udara.

Kepanikan dan kekhawatiran melanda, namun juru bicara Kementerian Kesehatan Irak, Saif al-Badr, memberikan sedikit kelegaan. “Sejauh ini, sedikitnya 3.747 orang telah dirawat di rumah sakit di Baghdad dan provinsi lainnya sejak Senin,” ujarnya pada Selasa (15/4/2025), seperti dikutip dari Anadolu.

Al-Badr merinci bahwa Baghdad menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, mencapai 1.014 pasien, disusul provinsi selatan al-Muthanna dengan 874 kasus. Kabar baiknya, sebagian besar pasien dilaporkan telah menunjukkan pemulihan dan diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing. Lebih lanjut, al-Badr meyakinkan, “Kami tidak menghadapi kendala dalam penyediaan obat-obatan, peralatan medis, maupun oksigen.”

Baca Juga :  Bupati Bogor Rudy Susmanto Hadiri Kirab Budaya Tatar Sunda di Bandung, Pelestarian Budaya Semakin Kuat

Namun, laporan dari berbagai sumber memberikan gambaran yang lebih luas mengenai dampak badai pasir ini. Dilansir dari BBC, gelombang pasien dengan keluhan pernapasan juga membanjiri rumah sakit di provinsi lain. Lebih dari 250 orang di Najaf dan 322 lainnya di Diwaniyah harus mendapatkan perawatan intensif.

Yang memilukan, laporan menyebutkan bahwa sejumlah pasien yang rentan ini termasuk anak-anak. Situasi serupa juga terjadi di Dhi Qar dan Basra, di mana otoritas kesehatan mencatat setidaknya 530 kasus gangguan pernapasan akibat terjangan badai pasir.

Kenangan akan badai pasir mematikan pada tahun 2022 masih segar dalam ingatan. Kala itu, satu nyawa melayang dan lebih dari 5.000 orang harus berjuang dengan masalah pernapasan.

Kementerian Lingkungan Hidup Irak bahkan telah mengeluarkan peringatan suram, memperkirakan bahwa negara ini akan menghadapi lebih banyak “hari-hari berdebu” di masa mendatang.

Dampak badai pasir kali ini tidak hanya terbatas pada kesehatan. Jarak pandang yang menurun drastis, bahkan kurang dari satu kilometer, melumpuhkan aktivitas di berbagai wilayah tengah dan selatan Irak. Video-video yang beredar luas di internet memperlihatkan pemandangan suram, dengan kabut oranye tebal menyelimuti bangunan dan jalanan.

Baca Juga :  Inflasi Jepang Melandai, Harga Beras Melonjak Tajam Jaga Tekanan di Pasar

Para pejalan kaki dan aparat kepolisian terlihat mengenakan masker sebagai perlindungan diri dari partikel debu yang berbahaya. Tim medis juga disiagakan di tempat-tempat umum untuk memberikan bantuan segera bagi warga yang kesulitan bernapas.

Gangguan infrastruktur juga tak terhindarkan. Badai pasir menyebabkan pemadaman listrik di beberapa wilayah, menambah kesulitan bagi warga yang sudah harus berjuang dengan kualitas udara yang buruk.

Lebih lanjut, otoritas terpaksa mengambil langkah drastis dengan menutup bandara di provinsi Najaf dan Basra selama badai berlangsung. Meskipun dilaporkan mulai mereda pada Selasa pagi (15/4/2025), dampak dan sisa-sisa debu masih terasa.

Badai pasir memang bukan fenomena baru di Irak, namun frekuensinya yang semakin meningkat memicu kekhawatiran mendalam. Para ahli meyakini bahwa perubahan iklim memainkan peran signifikan dalam memperburuk situasi ini. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menempatkan Irak sebagai salah satu dari lima negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Baca Juga :  Irak Bekukan Aset Hizbullah dan Houthi, Dipicu Kekhawatiran Sanksi AS

Namun, akar permasalahan ini diyakini lebih dalam dari sekadar perubahan iklim global. Menurut Azzam Alwash, kepala organisasi nirlaba Nature Irak, praktik pertanian yang tidak berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya air yang buruk juga menjadi faktor kontributor utama.

Dengan nada kritis, Alwash menyatakan, “Perubahan iklim telah menjadi alasan yang tepat bagi para pejabat untuk menghindari tanggung jawab karena tidak mengambil tindakan selama 20 hingga 40 tahun terakhir. Ini merupakan masalah kebijakan.” Pernyataan ini menyoroti perlunya tindakan nyata dan kebijakan yang tepat untuk mengatasi masalah lingkungan yang semakin mendesak di Irak.

Badai pasir kali ini menjadi pengingat yang menyakitkan akan kerentanan Irak terhadap perubahan iklim dan tantangan lingkungan lainnya. Sementara ribuan orang berjuang untuk bernapas, pertanyaan besar muncul mengenai langkah-langkah jangka panjang yang perlu diambil untuk melindungi kesehatan masyarakat dan masa depan negara ini dari ancaman badai pasir yang semakin sering dan dahsyat.***