NARASITODAY.COM, JEPANG – Inflasi di Jepang menunjukkan tanda-tanda pelonggaran, meskipun harga beras masih mengalami lonjakan signifikan. Berdasarkan data resmi Kementerian Dalam Negeri Jepang yang dirilis Jumat (22/8/2025), inflasi inti tahunan turun menjadi 3,1% dari sebelumnya 3,3%. Angka ini merupakan yang terendah sejak November 2024.
Lonjakan harga beras tercatat mencapai 90,7% pada Juli dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, laju kenaikan harga mulai melambat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Mengutip Trading Economics, harga listrik mengalami penurunan untuk pertama kalinya sejak April 2024, yakni sebesar -0,7% dibandingkan kenaikan 5,5% sebelumnya. Sementara itu, harga gas tercatat stabil setelah sebelumnya naik 2,7%. Pertumbuhan harga juga melambat untuk barang-barang rumah tangga (2,5% vs 2,7%) dan sektor rekreasi (2,6% vs 2,8%).
Inflasi tetap stabil untuk sektor perumahan (1,0%), layanan kesehatan (1,5%), dan barang-barang lain-lain (1,2%). Namun, terjadi peningkatan pada sektor sandang (2,8% vs 2,6%), transportasi (2,6% vs 2,4%), dan komunikasi (6,4% vs 5,9%). Di sektor pangan, inflasi mencapai 7,6%, tertinggi sejak Februari, naik dari 7,2% pada Juni, dipicu oleh lonjakan harga beras.
Secara bulanan, Indeks Harga Konsumen (IHK) naik tipis sebesar 0,1%, sama seperti bulan sebelumnya. Inflasi inti juga tercatat di angka 3,1%, menyamai inflasi umum dan menjadi titik terendah dalam lima bulan terakhir.
Menurut laporan AFP, data ini memberikan angin segar bagi kabinet Perdana Menteri Shigeru Ishiba. Namun, inflasi masih berada di atas target Bank of Japan (BoJ) sebesar 2%, sehingga memunculkan ekspektasi bahwa BoJ akan menaikkan suku bunga pada Oktober mendatang.
BoJ selama ini enggan menaikkan suku bunga karena menilai lonjakan inflasi disebabkan oleh faktor sementara. Di sisi lain, Amerika Serikat terus mendorong BoJ untuk mengambil langkah tersebut. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, bahkan menyebut BoJ “tertinggal” dalam merespons inflasi.
“Skenario dasar kami adalah kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan (BoJ) bulan Oktober,” ujar ekonom Bloomberg Economics, Taro Kimura, seperti dikutip AFP.
Lonjakan harga beras sebelumnya dipicu oleh berbagai faktor, termasuk musim panas ekstrem pada 2023, aksi beli panik setelah peringatan gempa besar pada 2024, serta dugaan penimbunan oleh pedagang. Selain itu, meningkatnya jumlah wisatawan yang mencari beras turut menambah tekanan terhadap pasokan.
Sebagai respons, pemerintah Ishiba melepaskan stok darurat beras ke pasar untuk menekan harga. Awal bulan ini, pemerintah juga mengumumkan perubahan kebijakan pertanian yang telah berlangsung selama puluhan tahun, guna mendorong petani menanam komoditas selain beras.
Di sisi perdagangan internasional, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendorong Jepang untuk mengimpor lebih banyak beras dari AS sebagai upaya mengurangi surplus perdagangan Tokyo terhadap Washington.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














