NARASITODAY.COM – Konflik berkepanjangan di Yaman kembali memanas setelah militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan signifikan ke pelabuhan bahan bakar utama Ras Issa pada Kamis (17/4/2025). Aksi yang diklaim bertujuan untuk melumpuhkan sumber pendanaan kelompok Houthi ini, sayangnya, dilaporkan telah merenggut nyawa setidaknya 20 orang.
Serangan ini menjadi babak baru dalam kampanye intensif AS terhadap Houthi, kelompok yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman dan memiliki aliansi dengan Iran serta berbagai kelompok perlawanan regional, termasuk Hizbullah di Lebanon, milisi Irak, dan Hamas di Gaza.
“Serangan terhadap pelabuhan bahan bakar Ras Issa bertujuan untuk memutus sumber pasokan dan dana bagi Huthi,” demikian pernyataan militer AS yang dikutip AFP, Jumat (18/4/2025), menggarisbawahi logika di balik operasi tersebut.
Sejak 15 Maret lalu, Washington memang meningkatkan tekanan terhadap Houthi melalui serangkaian serangan udara yang nyaris terjadi setiap hari. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap serangan Houthi yang mengganggu jalur pelayaran sipil dan militer di Laut Merah dan Teluk Aden.
Aksi Houthi sendiri merupakan manifestasi protes keras terhadap agresi Israel di Gaza yang telah berlangsung sejak 2023. Mereka menyatakan bahwa serangan-serangan mereka di jalur maritim strategis itu adalah wujud solidaritas terhadap rakyat Palestina di Gaza yang terus menderita.
Konsekuensi dari serangan Houthi ini sangat signifikan. Terusan Suez, jalur vital yang biasanya dilalui sekitar 12% lalu lintas pelayaran dunia, menjadi berbahaya untuk dilewati. Akibatnya, banyak perusahaan pelayaran terpaksa mengambil rute memutar yang jauh lebih mahal di sekitar ujung selatan Afrika.
“Pasukan AS mengambil tindakan untuk menghilangkan sumber bahan bakar ini bagi teroris Houthi yang didukung Iran dan merampas pendapatan ilegal mereka yang telah mendanai upaya Houthi untuk meneror seluruh wilayah selama lebih dari 10 tahun,” klaim Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam sebuah pernyataan resmi.
Lebih lanjut, CENTCOM menambahkan, “Tujuan dari serangan ini adalah untuk melemahkan sumber kekuatan ekonomi Huthi, yang terus mengeksploitasi dan mendatangkan penderitaan besar bagi sesama warga negaranya.”
Pihak AS juga menyoroti bahwa “kapal-kapal terus memasok bahan bakar melalui pelabuhan Ras Issa” meskipun Washington telah secara resmi melabeli pemberontak Houthi sebagai organisasi teroris asing di awal tahun ini. Namun, CENTCOM tidak merinci lebih lanjut mengenai sumber bahan bakar tersebut.
Di sisi lain, dampak kemanusiaan dari serangan AS ini menjadi perhatian serius. Juru bicara kementerian kesehatan Houthi, Anees Alasbahi, melalui unggahan di media sosial, menyampaikan duka mendalam atas tewasnya 13 pekerja dan karyawan di pelabuhan Ras Issa, serta 30 lainnya yang mengalami luka-luka akibat “agresi” Amerika tersebut. Informasi terbaru dari Houthi bahkan menyebutkan jumlah korban tewas telah mencapai 20 orang.
Pelabuhan Ras Issa sendiri terletak strategis di sepanjang pantai barat Yaman yang menghadap ke Laut Merah. Ironisnya, kebijakan menyerang Houthi ini pertama kali diinisiasi oleh pemerintahan Joe Biden, sekutu dekat Israel, dan kini dilanjutkan oleh pemerintahan Donald Trump.
Serangan ke pelabuhan ini memunculkan pertanyaan mendasar: seberapa efektifkah strategi militer ini dalam menghentikan Houthi, dan bagaimana dampaknya terhadap situasi kemanusiaan yang sudah sangat memprihatinkan di Yaman?***














