Cahaya di Ujung Terowongan? Survei Ungkap Pergeseran Sikap Amerika Terhadap China Setelah Bertahun-tahun Ketegangan

0
Cahaya di Ujung Terowongan? Survei Ungkap Pergeseran Sikap Amerika Terhadap China Setelah Bertahun-tahun Ketegangan

NARASITODAY.COM – Opini publik Amerika Serikat terhadap Tiongkok selama ini dikenal dingin, diwarnai ketidakpercayaan dan bahkan permusuhan. Namun, sebuah angin perubahan tampak berhembus. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, survei terbaru mengindikasikan adanya pelunakan sikap warga Negeri Paman Sam terhadap Beijing.

Laporan Radio Free Asia pada Senin (21/4/2025), yang mengutip hasil survei dari lembaga riset terkemuka yang berbasis di Washington, Pew Research Center, menyoroti penurunan signifikan dalam jumlah warga Amerika yang memandang Tiongkok sebagai musuh utama Amerika Serikat. Temuan ini muncul di tengah tensi perdagangan yang masih membara antara kedua negara adidaya tersebut.

Survei tersebut mengungkap paradoks menarik. Lebih dari separuh responden menyatakan bahwa kenaikan tarif perdagangan antara AS dan Tiongkok justru akan lebih merugikan Amerika Serikat dan diri mereka sendiri.

Di sisi lain, mayoritas signifikan, mencapai 75%, mengungkapkan keraguan mendalam terhadap kemampuan Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam mengambil keputusan yang tepat terkait urusan internasional.

Kendati demikian, data survei yang dirilis pada 17 April menunjukkan tren yang menggembirakan bagi hubungan kedua negara. Sebanyak 77% warga Amerika kini memiliki “opini yang tidak baik” tentang Tiongkok.

Angka ini, meskipun masih tinggi, menunjukkan penurunan dari 81% pada tahun 2024. Yang lebih signifikan, ini adalah penurunan year-over-year pertama yang tercatat sejak tahun 2017, sebuah indikasi kuat adanya pergeseran sentimen. Fenomena ini jelas menandakan “pelunakan yang jelas dalam sentimen Amerika secara keseluruhan terhadap China,” sebagaimana dilaporkan oleh Radio Free Asia.

Lebih jauh lagi, persentase warga Amerika yang memiliki “opini yang sangat tidak baik” terhadap rival geopolitik terbesar AS ini mengalami penurunan drastis, menyusut 10 poin persentase menjadi 33%. Begitu pula dengan proporsi warga Amerika yang melihat Tiongkok sebagai “musuh” AS, yang kini tercatat sebesar 33%, turun signifikan dari 42% pada tahun sebelumnya.

Baca Juga :  UMKM Indonesia Terancam 'Kanibalisasi' Impor Murah China, Pemerintah Siapkan Harga Patokan

Ketika dihadapkan pada pertanyaan terbuka mengenai negara mana yang dianggap sebagai ancaman terbesar bagi AS, 42% warga Amerika menyebut Tiongkok. Namun, angka ini pun menunjukkan penurunan dari 50% pada tahun 2023, mengisyaratkan adanya evaluasi ulang terhadap tingkat ancaman yang dirasakan.

Menariknya, survei ini juga mengungkap adanya perbedaan pandangan berdasarkan kelompok usia dan afiliasi politik. “Kelompok warga Amerika dengan usia tua dan semakin konservatif cenderung memiliki pandangan negatif terhadap China,” demikian temuan survei tersebut. Warga Amerika yang lebih tua cenderung lebih sering mengkategorikan Tiongkok sebagai musuh dibandingkan generasi muda.

Baca Juga :  Coding World Innovative Technology Challenge 2024: Anak Indonesia Tunjukkan Kemampuan Mengagumkan

Rinciannya menunjukkan bahwa “47% dari mereka yang berusia 65 tahun ke atas dan 40% dari mereka yang berusia 50 hingga 64 tahun memiliki pandangan ini, dibandingkan dengan 19% dari mereka yang berusia 18-29 tahun.”

Sebaliknya, generasi muda Amerika cenderung melihat Tiongkok sebagai pesaing. “Sebagai perbandingan, warga Amerika yang lebih muda cenderung melihat China sebagai pesaing, dengan 61% orang dewasa di bawah usia 30 tahun mengatakan hal ini.”

Lebih lanjut, survei Pew mencatat adanya pelunakan sikap terhadap Tiongkok di kalangan pemilih Partai Republik dan independen yang cenderung ke Republik, meskipun mereka secara umum masih lebih kritis terhadap Tiongkok dibandingkan dengan responden dari Partai Demokrat.

“Persentase kaum Republik yang memiliki ‘opini tidak baik’ terhadap China turun 8 poin persentase, menjadi 82%, dengan penurunan 16 poin persentase menjadi 43% pada mereka yang memiliki pandangan ‘sangat tidak baik’.” Sebagai perbandingan, “72% kaum Demokrat memiliki pandangan tidak baik, termasuk 24% yang memiliki opini ‘sangat tidak baik’, turun dari 30% pada tahun 2024.”

Survei Pew ini mengumpulkan data dari 3.605 orang dewasa AS melalui survei daring acak yang dilakukan pada tanggal 24 hingga 30 Maret, dengan menggunakan bobot demografis untuk merepresentasikan populasi orang dewasa AS secara akurat.

Baca Juga :  China Tembakkan Sindiran Tajam ke Washington, Kritik Penangkapan Maduro Sebagai Ujian Bagi Diplomasi Global

Konteks politik dan ekonomi sebelum survei ini dilakukan juga patut dicatat. “Sebelum survei dilakukan, Presiden AS Donald Trump telah memberlakukan tarif sebesar 20% pada impor dari China dengan alasan perannya dalam perdagangan fentanil. China membalas dengan tarif pada produk pertanian AS dan tindakan lainnya.

Sejak itu, dalam peningkatan tarif balasan yang terus meningkat, Trump telah mengenakan tarif sebesar 145% pada impor China, sementara Beijing telah menanggapinya dengan tarif sebesar 125% dan kemudian Washington kembali menampar Beijing dengan tarif 245%.”

Eskalasi tarif yang signifikan ini tampaknya tidak secara otomatis memperburuk sentimen publik Amerika terhadap Tiongkok, justru sebaliknya, memunculkan perdebatan mengenai dampaknya terhadap perekonomian domestik.

Temuan survei Pew ini membuka ruang interpretasi yang luas. Apakah pelunakan sikap ini merupakan respons terhadap kekhawatiran ekonomi akibat perang dagang, ataukah ada faktor lain yang berperan? Yang jelas, setelah bertahun-tahun diwarnai ketegangan dan retorika keras, muncul secercah harapan akan potensi perubahan dinamika hubungan antara dua kekuatan dunia ini, setidaknya di mata sebagian warga Amerika. Perjalanan diplomasi dan kebijakan di masa depan akan menjadi penentu apakah tren positif ini akan berlanjut dan membawa pada hubungan yang lebih konstruktif.***