NARASITODAY.COM – Bogor, kota yang dikenal dengan segudang titik parkir strategis, yang katanya selalu penuh sesak setiap hari ternyata menyimpan satu misteri besar, ke mana perginya uang retribusi parkir yang entah bagaimana tidak pernah benar-benar terlihat menyumbang PAD?
Ketua Komisi II DPRD Kota Bogor, Abdul Kadir Hasbi Alatas, mengungkapkan, aktivitas parkir memang terlihat meriah setiap hari di hampir semua sudut strategis kota, tapi retribusi yang masuk ke kas daerah justru seperti sedang main petak umpet, banyak yang muncul, tapi uangnya sulit ditemukan.
“Aktivitas parkir terjadi setiap hari di hampir seluruh titik strategis kota, namun angka retribusi yang masuk ke kas daerah tidak sebanding dengan realitas di lapangan, ” tuturnya.
Menurut Hasbi, penyebab utama adalah tata kelola yang katanya lemah, pengawasan yang longgar, dan tentu saja, membiarkan pelanggaran berlangsung tanpa hambatan. Mungkin mereka sedang menguji teori baru, apakah parkir liar bisa menjadi seni dalam berbisnis?
Komisi II DPRD mengeluarkan lima rekomendasi. Mulai dari audit menyeluruh titik parker, hingga ajakan mengadopsi sistem digital, yang katanya bisa mengeliminasi manipulasi manual.
Hasbi juga menegaskan bahwa parkir liar dan oknum yang bermain di lapangan harus ditindak tegas. Kita tunggu saja, apakah tegas itu berupa tilang, atau cuma wacana di atas kertas?
“Kerja sama dengan pihak ketiga harus dievaluasi ulang, jangan sampai hanya menguntungkan segelintir pihak tanpa dampak nyata bagi daerah,” pintanya. Maksudnya, jangan sampai cuma tukang parkir atau calo yang senang, sementara kas daerah tetap kosong melompong.
Yang terakhir, transparansi pelaporan pendapatan retribusi parkir wajib dilakukan secara berkala agar DPRD dan publik bisa ikut mengawasi. Mungkin supaya tidak ada yang bisa bilang, “Kami nggak tahu, Pak.”
“Kami mendorong Dishub untuk memperkuat pengelolaan, pemantauan, dan memastikan setiap titik parkir memberikan kontribusi yang sesuai dan bisa dimaksimalkan,” tuntas Hasbi berapi-api.***













