Kelestarian Satwa Langka di TNGHS Jadi Prioritas, Masyarakat Dilibatkan dalam Pengawasan

0
Kelestarian Satwa Langka di TNGHS Jadi Prioritas, Masyarakat Dilibatkan dalam Pengawasan

NARASITODAY.COM – Keberadaan satwa langka yang menjadi ciri khas hewan endemik di kawasan Gunung Butak, Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), masih dalam kondisi terjaga dengan baik hingga kini. Hal ini terpantau pada Selasa (27/5/2025), berdasarkan keterangan pihak pengelola taman nasional.

Meskipun satwa langka tersebut kerap terlihat oleh warga Kampung Ciputih, Desa Puraseda, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, keberadaan mereka tidak mengganggu aktivitas warga.

Baca Juga :  Jaro Ade : Relawan Sahaja dan Tim Militan Siap Menangkan Pilkada Bogor 2024

“Secara keseluruhan, konflik antara satwa dan masyarakat jarang terjadi di wilayah Taman Nasional Gunung Halimun Salak,” ungkap Kepala Resor Gunung Butak TNGHS, Yosi, Rabu (28/5/2025).

Menurutnya, hingga kini beberapa spesies endemik utama di TNGHS masih lestari dan terus dilestarikan.

“Di Halimun ini ada tiga spesies kunci, yaitu elang jawa, owa jawa, dan macan tutul baik yang berwarna hitam maupun bercorak,” jelas Yosi.

Baca Juga :  Hari Bhayangkara ke-79, Bupati Bogor Apresiasi Sinergi dan Dedikasi Polres Bogor

Ia mengakui bahwa praktik perburuan liar memang masih ditemukan di kawasan taman nasional, namun sebagian besar tidak menyasar satwa langka.

“Perburuan liar memang masih ada, tapi jarang ditemui langsung di lapangan dan biasanya masih bersifat sederhana,” katanya.

Yosi juga mengungkapkan tantangan dalam pengawasan kawasan hutan yang luas, dengan jumlah petugas yang terbatas.

“Area Gunung Butak mencakup sekitar 5.315 hektare, sementara jumlah Polisi Hutan yang tersedia hanya tiga orang. Untuk itu, kami terus mengajak masyarakat ikut berperan aktif menjaga kelestarian ekosistem dan satwa endemik,” tambahnya.

Baca Juga :  Warga Bogor Diimbau Waspada Pengolahan Makanan Setelah Kasus Keracunan Massal

Baru-baru ini, pihaknya juga menemukan jejak dan kotoran satwa langka di jalur menuju kawasan hutan larangan.

“Biasanya jalur yang digunakan macan tutul juga dilalui masyarakat. Kami menemukan jejak dan kotoran satwa seperti macan tutul, ayam hutan, dan babi hutan di sana,” pungkas Yosi.***