NARASITODAY.COM – Menjelang Hari Raya Iduladha, umat Muslim di seluruh dunia bersiap melaksanakan ibadah kurban sebagai bentuk ketakwaan dan rasa syukur kepada Allah SWT.
Namun, agar ibadah tersebut sah dan bernilai di sisi agama, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan oleh orang yang hendak berkurban. Kesalahan dalam pelaksanaan, meskipun kecil, bisa berdampak besar pada keabsahan dan pahala kurban.
Berikut adalah lima pantangan utama yang wajib dihindari oleh mereka yang berniat menyembelih hewan kurban:
1. Memotong Kuku dan Mencukur Rambut Sebelum Penyembelihan
Salah satu larangan yang sering terabaikan adalah memotong kuku dan mencukur rambut sejak memasuki tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan kurban disembelih. Larangan ini berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW, yang menyerukan agar orang yang hendak berkurban tidak mengambil (memotong) bagian dari rambut dan kukunya selama sepuluh hari pertama Dzulhijjah.
Larangan ini merupakan simbol ketundukan dan penghormatan terhadap ibadah kurban, di mana pelaku dianjurkan untuk menahan diri dari memotong bagian tubuhnya sebagai bentuk spiritual menyiapkan diri menyambut hari penyembelihan.
2. Menjual Bagian dari Hewan Kurban
Setiap bagian dari hewan kurban, baik itu daging, kulit, maupun bulunya, tidak boleh diperjualbelikan. Hewan kurban adalah bentuk persembahan kepada Allah SWT dan tidak boleh dikomersialkan dalam bentuk apapun. Rasulullah SAW dengan tegas melarang penjualan bagian hewan kurban, karena hal ini dapat mencederai nilai ikhlas dan pengorbanan dalam ibadah tersebut.
Semua bagian hewan kurban seharusnya dibagikan secara adil kepada mereka yang berhak, seperti fakir miskin, tetangga, atau sanak saudara. Menjual kulit atau bagian lain dari hewan yang telah disembelih atas nama kurban, bahkan dengan niat untuk amal, tetap tidak dibenarkan secara syariat.
3. Mengupah Penyembelih dengan Bagian Hewan Kurban
Pantangan lain yang wajib diperhatikan adalah tidak memberikan bagian tubuh hewan kurban sebagai upah kepada juru sembelih atau siapa pun yang terlibat dalam proses kurban. Jika ingin memberikan hadiah atau imbalan kepada penyembelih, maka harus diberikan dari harta pribadi, bukan dari hewan kurban.
Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang menyembelih kurban, maka jangan memberikan bayaran kepada penyembelihnya dari kurban itu sedikit pun.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga keikhlasan dalam ibadah kurban dan tidak mencampurkannya dengan unsur transaksi atau kompensasi yang bersifat duniawi.
4. Tidak Menyebut Nama Allah saat Menyembelih
Dalam Islam, menyebut nama Allah saat menyembelih hewan adalah syarat sahnya penyembelihan. Jika penyembelih lupa atau sengaja tidak mengucapkan Bismillah, maka daging hewan tersebut dianggap haram dan tidak boleh dikonsumsi.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan itu adalah kefasikan.” (QS. Al-An’am: 121)
Penyembelihan hewan kurban tidak boleh dianggap sebagai proses teknis semata, melainkan harus dilandasi niat ibadah dan kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam setiap detik pelaksanaannya.
5. Menyembelih Hewan dengan Cara yang Tidak Sesuai Syariat
Islam sangat menjunjung tinggi nilai kasih sayang, bahkan kepada hewan. Oleh sebab itu, proses penyembelihan harus dilakukan dengan cara yang benar menurut syariat Islam. Alat yang digunakan harus tajam, penyembelihan dilakukan dengan cepat, dan sebisa mungkin hewan tidak dibuat menderita secara berlebihan.
Penyembelihan yang menyakitkan atau menggunakan cara yang tidak manusiawi seperti mematahkan tulang atau membuat hewan menderita lama dilarang dalam Islam. Hal ini sejalan dengan prinsip Islam sebagai agama yang penuh rahmat, termasuk terhadap makhluk hidup lainnya.
Menjalankan ibadah kurban bukan hanya soal menyembelih hewan, tetapi juga tentang menjalankan serangkaian adab dan aturan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Dengan menghindari lima pantangan di atas, umat Muslim tidak hanya memastikan bahwa kurbannya sah secara syariat, tetapi juga menjaga nilai spiritualitas dan kemuliaan ibadah tersebut.
Semoga ibadah kurban tahun ini menjadi ladang pahala dan sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT bagi setiap Muslim yang menunaikannya.***














