
NARASITODAY.COM – Seorang pekerja proyek revitalisasi SDN Gang Aut, Kelurahan Gudang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, dilaporkan tewas setelah tertimbun tanah saat melakukan pekerjaan galian, pada Sabtu (21/6/2025).
Korban diketahui bernama Iwan Setiawan (51), warga Kampung Bunar, Desa Bunar, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor. Tragedi ini memantik keprihatinan publik dan mendapat perhatian serius dari Anggota DPRD Kota Bogor, Wishnu Ardiansyah.
Menurut Wishnu, insiden tersebut harus dijadikan momentum untuk mengevaluasi secara menyeluruh penerapan standar keselamatan kerja (K3) di setiap proyek pemerintah.
“Pertama, saya menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban. Semoga diberikan kekuatan dan ketabahan. Kedua, yang paling penting, kita harus memeriksa secara serius apakah pelaksanaan proyek sudah mengutamakan aspek keselamatan kerja,” ujar Wishnu saat dihubungi, pada Minggu (22/6/2025) malam.
Sebagai Anggota Komisi III DPRD Kota Bogor, Wishnu menyatakan akan mendorong agar Komisi III segera memanggil pihak-pihak terkait, termasuk dinas teknis, kontraktor, dan konsultan pengawas, untuk memberikan klarifikasi terkait pelaksanaan proyek di lapangan.
“Saya akan mengusulkan kepada pimpinan Komisi III agar menggelar rapat dengar pendapat. Kita perlu mengetahui sejauh mana standar K3 diterapkan. Jika ada kelalaian yang menyebabkan korban jiwa, maka harus ada pertanggungjawaban yang jelas,” tegas politikus dari Fraksi PPP itu.
Wishnu juga menekankan pentingnya pengawasan terhadap proyek-proyek fisik yang dibiayai dari APBD, terutama yang berkaitan dengan fasilitas publik seperti sekolah.
“Keselamatan kerja bukan hanya soal teknis, tapi soal nyawa manusia. Proyek pemerintah harus menjadi contoh dalam penerapan SOP K3,” tegasnya.
Ia juga mendorong agar dilakukan telaah menyeluruh terhadap dokumen proyek, mulai dari manajemen risiko, desain teknis, hingga pelaporan pengawasan K3. Jika ditemukan unsur kelalaian, pihak kontraktor maupun pengawas proyek harus bertanggung jawab secara profesional dan hukum.
Selain itu, Wishnu berharap kontraktor pelaksana dapat memberikan bantuan atau santunan yang layak kepada keluarga korban. Ia juga meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Dinas Pendidikan Kota Bogor segera menyampaikan keterangan resmi kepada publik.
“Hal ini penting agar tidak timbul spekulasi liar. Penjelasan dari dinas teknis dan pengawas proyek sangat dibutuhkan untuk memahami duduk persoalan yang sebenarnya,” ujarnya.
Menurut Wishnu, kejadian ini menjadi peringatan bahwa aspek keselamatan kerja masih kerap diabaikan dalam pelaksanaan proyek di daerah. Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
“Saya percaya Kota Bogor bisa menjadi lebih baik dalam tata kelola proyek pembangunan. Tapi itu hanya bisa tercapai jika keselamatan manusia ditempatkan sebagai prioritas utama,” pungkasnya.
Sebagai informasi, proses evakuasi korban memakan waktu lebih dari satu jam dan dilakukan oleh relawan Tagana Kota Bogor bersama warga sekitar. Dugaan awal menyebutkan kondisi tanah di lokasi proyek cukup labil. Namun, penyebab pasti masih dalam penyelidikan aparat kepolisian.***













