NARASITODAY.COM – Lembaga Kesatuan Adat Kasepuhan Banten Kidul (Sabaki) bersama Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) wilayah Banten Kidul menghadiri perayaan Seren Taun di Kasepuhan Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. pada, Jumat (28/06/2025).

Sebelum menuju ke rumah kasepuhan adat, rombongan Sabaki dan Aman menyempatkan diri mengunjungi rumah sejarah yaitu rumah eks Kantor Bupati Bogor pada masa revolusi.
Ketua Sabaki, H. Sukanta, menegaskan bahwa kegiatan Seren Taun merupakan bentuk ungkapan syukur masyarakat adat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang diperoleh selama setahun.
“Secara umum, makna Seren Taun adalah implementasi dari rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil panen masyarakat kasepuhan yang ada di masing-masing wilayah,” ujarnya.

Lebih jauh dia, menceritakan bahwa Sabaki sendiri pertama kali digagas pada tahun 1965 oleh mantan Gubernur Jawa Barat, Solihin GP. Saat itu, hanya ada lima kasepuhan yang pada saat itu hadir, yang ada di Banten Kidul itu yang pertama ada Citorek, kemudian ada Bayah, Cicarucub, kemudian Cicungsang Cisitu termasuk Cikaret pada saat itu, yang sekarang Gelar Alam.
Seiring waktu, Sabaki terus menelusuri dan memperluas jejaring adatnya hingga menemukan banyak kasepuhan lain di wilayah selatan Jawa Barat yang memiliki kesamaan karakteristik adat.
“Ternyata di Kabupaten Bogor juga ada kasepuhan dengan karakter adat Banten Kidul. Maka secara otomatis, mereka menjadi bagian dari Sabaki,” katanya.
Kini, anggota Sabaki mencakup wilayah kasepuhan di Kabupaten Bogor, Sukabumi, Lebak, hingga sebagian Pandeglang bagian selatan.
Jadi kata dia, seren Taun di Kasepuhan Malasari tahun ini menjadi momen pertama Sabaki secara langsung menghadiri upacara adat di wilayah tersebut.
Biasanya, kata dia, ia atau para pengurus Sabaki hanya menghadiri upacara di kasepuhan-kasepuhan lain seperti Urug, meski tidak rutin setiap tahun.
Yang menarik, menurutnya, adalah fakta sejarah bahwa Bupati pertama Bogor pernah berkantor di wilayah ini.
“Kita baru tahu bahwa Bupati pertama Bogor ternyata pernah berkantor di sini. Ini penting dan belum banyak diketahui masyarakat luas,” tegasnya.
Ia pun mendorong agar fakta sejarah tersebut disosialisasikan lebih luas.
“Keberadaan rumah sejarah ini tidak bisa dipisahkan dari lahirnya Kabupaten Bogor. Siapa pun pemimpinnya hari ini tidak boleh melupakan sejarah, apalagi keterkaitan erat dengan kasepuhan,” ujarnya.
Dia meyakini bahwa pada masa awal berdirinya Kabupaten Bogor, para kasepuhan di Malasari turut berperan aktif dalam membantu pemerintahan.
“Saya yakin, leluhur kita, para kasepuhan, adalah pihak yang melayani pemerintah Bupati Bogor saat itu. Tidak mungkin Bupati pertama bisa berkantor di sini kalau kasepuhan belum ada di wilayah ini,” tandasnya.














