NARASITODAY.COM – Larangan tampilnya musisi Hindia di sejumlah kota di Indonesia memicu sorotan publik, terutama dari para penggemar yang telah lama menantikan kehadiran Baskara Putra dan proyek musiknya di luar Jakarta. Kekecewaan pun meluas, terutama di daerah, di mana penonton harus merogoh kocek lebih dalam jika ingin menyaksikan penampilan Hindia secara langsung.
Salah satu kasus yang mencuat adalah pembatalan penampilan Hindia di festival musik “Ruang Bermusik” di Tasikmalaya. Tak hanya Hindia, proyek musik lainnya seperti .Feast dan Lomba Sihir juga batal tampil. Pembatalan tersebut disebut-sebut dipicu oleh tudingan bahwa Hindia membawa unsur yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan.
“Beberapa event di Tasik diselenggarakan dengan mudah, bahkan nanti malam juga ada band Wali yang tampil di Tasik. Hanya saja terkait band ini kan ada indikasi band satanic, band yang memang nyerempet pada norma-norma melanggar syariat, dengan pemahaman, simbol-simbol dajjal, itu saja yang menjadi permasalahan,” ujar Ketua Umum Al-Mumtaz, Ustaz Hilmi, Selasa (15/7/2025).
Pernyataan tersebut memicu perdebatan di media sosial. Sebagian netizen mendukung pelarangan dengan alasan kekhawatiran terhadap pengaruh negatif, sementara sebagian lainnya membela Hindia dengan dalih bahwa seni adalah bentuk kebebasan berekspresi.
Meski akhirnya penampilan Hindia dan rekan-rekannya batal digelar, publik mulai memahami situasi yang melatarbelakangi keputusan tersebut. Namun, di balik kontroversi itu, banyak yang mengingatkan bahwa karya-karya Hindia tidak melulu soal simbol atau aksi panggung.
Lagu-lagu Hindia dikenal memiliki lirik yang menyentuh dan relevan dengan isu kesehatan mental. Tak sedikit penggemar yang mengaku merasa tertolong secara emosional berkat musiknya. Beberapa bahkan menyebut lagu-lagu Hindia sebagai penyelamat di masa-masa kelam.
“Begitu banyak fans yang mengadu mengenai masalah kesehatan mental mereka dan hampir berujung bunuh diri. Tapi, Hindia dengan lagu-lagunya seakan menjadi malaikat atas pemecahan masalah mereka,” tulis laporan tersebut.
Kontroversi ini membuka ruang diskusi lebih luas tentang batas antara ekspresi seni dan nilai-nilai sosial, serta bagaimana musik bisa menjadi medium penyembuhan bagi banyak orang.***
Ikuti Berita : Google News
Ikuti Saluran WhatsApp: Narasitoday














