NARASITODAY.COM – Lonjakan insiden pembuangan limbah oleh perusahaan air di Inggris memicu krisis pencemaran air yang membayangi kesehatan masyarakat dan memicu keresahan luas. Pemerintah pun terpaksa merancang reformasi besar-besaran terhadap regulasi sektor air.
Tak sedikit warga yang merespons dengan aksi boikot pembayaran tagihan, termasuk perenang yang kini dilanda kekhawatiran atas risiko kesehatan di perairan umum. Salah satunya Chris Stanley, pensiunan berusia 82 tahun dari Whitstable. Ia berhenti membayar tagihan air sejak 2021 lantaran kecewa dengan praktik Southern Water.
“Mereka membuang air limbah pada Jumat, Minggu malam, dan Senin pantai dinyatakan tidak aman untuk berenang,” ujar Stanley kepada AFP, Jumat (25/7/2025).
Meski demikian, pengadilan tetap memutuskan bahwa dirinya wajib membayar tagihan. Stanley menambahkan:
“Hakim memutuskan bahwa perusahaan air berhak mengklaim uang tersebut meskipun mereka tidak melakukannya dengan benar.”
- Laporan Meningkat & Kritik Terhadap Regulasi
Southern Water, perusahaan penyedia air bagi 2,6 juta warga, memiliki izin membuang limbah ke laut saat kapasitas jaringan tak mampu menampung hujan deras. Namun, praktik ini mendapat sorotan tajam setelah data Badan Lingkungan Inggris mencatat 3,6 juta jam pembuangan limbah ke laut sepanjang 2023 — angka tertinggi yang pernah tercatat. Insiden pencemaran serius bahkan meningkat 60% dalam satu tahun.
- Pemerintah Inggris Ambil Langkah Serius
Perdana Menteri Keir Starmer dari Partai Buruh mengumumkan reformasi sektor air yang mencakup pembubaran regulator Ofwat, yang dianggap gagal mengawasi perusahaan-perusahaan air.
“Industri air kita rusak,” tegas Menteri Lingkungan Hidup Steve Reed.
Langkah ini merupakan respons terhadap temuan Komisi Air Independen yang menyoroti kegagalan sistemik dalam pengawasan air sejak privatisasi sektor tersebut akhir 1980-an.
- Kekhawatiran Warga Tetap Tinggi
Di pantai Tankerton, Kent, masyarakat tetap beraktivitas meski laporan pencemaran beredar. Lisa Lawton, instruktur yoga asal London, baru mengetahui bahwa pantai yang dikunjunginya tercemar.
“Saya hanya ingin berenang,” ucapnya.
Senada dengan itu, Emily Winstone, seorang ibu, menyebut pencemaran kini menjadi hal yang selalu ia pikirkan ketika membawa anak-anak ke pantai.
“Dulu waktu kami kecil, kami tidak pernah memikirkannya,” katanya.
- Gerakan Boikot dan Seruan Nasionalisasi
Kemarahan publik melahirkan gerakan “Boikot Tagihan Air”. Kelompok Surfers Against Sewage mencatat 1.850 laporan warga sakit setelah berenang sepanjang tahun lalu. Mereka juga menciptakan aplikasi pemantau kualitas air laut.
Elane Heffernan dari SOS Whitstable, yang jatuh sakit setelah berenang pada 2021, aktif berkampanye untuk menasionalisasi ulang sektor air.
“Kami memiliki bukti cukup selama 30 tahun bahwa (privatisasi) tidak berhasil. Tidak akan pernah berhasil,” ujarnya.
Petisi yang ia galang telah memperoleh dukungan lebih dari 280.000 tanda tangan.
- Southern Water & Rencana Investasi
Southern Water mengakui bahwa pembuangan limbah “tidak dapat diterima”. Perusahaan mengklaim telah mengalokasikan dana £1,5 miliar hingga 2035 guna mengurangi frekuensi pembuangan melalui pendekatan berbasis alam dan teknologi. Pada 2023, mereka menyebut telah menginvestasikan £965 juta.
Kantor Audit Nasional menyatakan bahwa dibutuhkan dana £290 miliar dalam 25 tahun ke depan untuk memperbaiki seluruh sistem air di Inggris.***
sumber:cnbc
Ikuti Berita :Â Google News
Ikuti Saluran WhatsApp:Â Narasitoday













