Turis Asal India Dapat Surat Denda Rp 18 Juta dari Swiss Setelah Liburan Hampir Setahun

0
liburan
Ilustrasi Kemacetan lalu lintas diswiss.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, NEW DELHIKenangan indah liburan di pegunungan Alpen yang megah mendadak berubah menjadi mimpi buruk yang menguras kantong bagi seorang turis asal India. Hampir setahun setelah pelesirannya ke Swiss berakhir, ia dikejutkan oleh sepucuk surat resmi dari pemerintah negara tersebut yang berisi tagihan denda pelanggaran lalu lintas dengan nominal yang fantastis.

Kisah penilangan pasca-liburan ini mendadak viral setelah dibagikan oleh sang turis perempuan melalui akun media sosial X (sebelumnya Twitter) dengan nama pengguna Poan Sapdi. Dalam unggahannya, Poan mengaku sangat terkejut dan tengah mencari tahu apakah ada celah hukum untuk meringankan beban finansial yang tiba-tiba datang tersebut.

“Apakah ada yang pernah menerima denda pelanggaran lalu lintas dari Swiss beberapa bulan setelah kembali dari liburan?” kata Poan dalam cuitannya yang dikutip NDTV, Selasa (2/6/2026).

Ia merinci bahwa surat tilang yang mendarat di rumahnya menuntut pembayaran kompensasi yang tidak sedikit bagi ukuran kantong turis biasa.

“Kami baru saja menerima surat tilang hampir Rs 1 lakh (sekitar Rp 18,3 juta), hampir setahun setelah liburan kami. Kami tengah mencari tahu apakah ada cara untuk mengajukan banding, mengurangi, atau membatalkan denda tersebut,” dia menambahkan.

Baca Juga :  5 Keajaiban Lesser Florican, Si Penari Udara yang Simbol Keindahan Alam India

Melalui ruang digital, Poan berharap ada sesama pelancong yang pernah terjebak dalam situasi serupa dan berhasil menemukan jalan keluar yang solutif. “Kami ingin mendengar pengalaman siapa pun yang pernah menghadapi hal serupa atau tahu prosesnya. Setiap bantuan akan sangat kami hargai,” tulisnya lagi.

Edukasi Traveler dan Risiko Daftar Hitam Visa

Unggahan tersebut langsung memantik perhatian masif hingga disaksikan oleh lebih dari 1,3 juta penonton. Insiden ini pun memicu diskusi hangat di kalangan komunitas traveler internasional mengenai pentingnya membaca klausul perjanjian sewa mobil secara mendalam, serta urgensi memahami hukum lalu lintas lokal saat berkendara di negeri orang.

Bukannya mendapat trik untuk lolos, mayoritas warganet justru mengingatkan Poan akan ketatnya hukum di Eropa. Banyak yang menyarankan agar denda tersebut segera dilunasi demi menghindari sanksi administratif yang jauh lebih fatal, seperti pemblokiran izin masuk ke wilayah Eropa (Schengen).

Baca Juga :  Guru di Sabu Raijua Diduga Pertontonkan Video Porno ke Siswa, DPR Soroti Dampak Psikologis Korban

“Tidak mungkin denda itu dihapus. Selain itu, karena Anda baru mengajukan banding setelah sekian waktu, pihak berwenang mungkin akan menjadikannya contoh agar orang lain tidak melakukan hal yang sama,” ujar salah satu warganet di kolom komentar.

Netizen lain juga memberikan peringatan keras terkait masa depan dokumen perjalanannya. “Permintaan penghapusan denda dari luar negeri kemungkinan besar akan mengakibatkan peningkatan denda. Lebih baik bayar secepatnya agar tidak masuk daftar hitam untuk visa Schengen berikutnya,” warganet lain menimpali.

Mengajukan Keberatan Atas Biaya Keterlambatan

Mendapat serbuan saran yang memintanya langsung pasrah membayar, Poan memberikan klarifikasi. Ia menegaskan tidak berniat kabur dari tanggung jawab, melainkan hanya ingin memprotes biaya penalti tambahan akibat keterlambatan pengiriman surat dari otoritas Swiss sendiri.

“Kami akan membayarnya, tentu saja, tetapi disebutkan dalam surat bahwa kami dapat mengajukan keberatan atas denda tersebut. Kami ingin mengajukan keberatan atas biaya keterlambatan karena kami menerima pemberitahuan tersebut sangat terlambat,” ujar Poan meluruskan.

Baca Juga :  Cari Sensasi Berbeda? 5 Kota Ini Tawarkan Aktivitas Menarik Sepanjang Waktu

Skala denda di Swiss yang luar biasa ketat memicu simpati sekaligus kengerian dari pengguna jalan lain di Eropa yang membandingkannya dengan negara tetangga.

“Pernah dapat denda dari Jerman setelah perjalanan sebesar 10.000. Sudah dibayar. Tapi 1 lakh itu gila,” kata warganet lain membandingkan.

“Denda lalu lintas Swiss sangat besar. Bayar saja, kalau tidak mereka akan terus menambahkan bunga. Anda juga bisa meminta rencana pembayaran, mungkin Anda bisa membayarnya secara bertahap, sedikit demi sedikit. Saya tidak yakin apakah Anda akan kembali ke sana,” kata yang lain memberikan opsi jalan tengah.

Bagi banyak orang, paspor dan koper yang sudah tersimpan rapi di lemari adalah tanda bahwa sebuah perjalanan telah usai. Namun, drama yang menimpa Poan Sapdi menjadi pengingat berharga bagi para pelancong mandiri (backpacker maupun road tripper) bahwa kamera pengawas kecepatan di jalanan Eropa tidak pernah tidur, dan “oleh-oleh” berupa tagihan hukum bisa saja melintasi benua untuk mengetuk pintu rumah kita, bahkan ketika memori liburan itu sendiri sudah mulai pudar.***

Editor : Alysa

Sumber : detik.com