Pro-Kontra Tunjangan DPR Rp 50 Juta, Jerome Polin Turun Tangan dengan Kalkulasi Tegas

0
Jerome
Konten kreator sekaligus lulusan Matematika Waseda, Jerome Polin.(Foto : guideku.com)

NARASITODAY.COM – Konten kreator sekaligus lulusan Matematika Universitas Waseda, Jerome Polin, menanggapi pernyataan Wakil Ketua DPR RI Adies Kadir terkait tunjangan perumahan anggota Dewan sebesar Rp 50 juta per bulan.

Pernyataan Adies yang menyebut harga kos Rp 3 juta per bulan dikalikan 26 hari kerja menjadi Rp 78 juta memicu Jerome untuk melakukan koreksi secara matematis.

“Kalau sekitar sini (Senayan) kan ngontrak atau kita kos kan Rp 3 juta per bulan, yang didapat kan Rp 50 juta per bulan. Kalau kita Rp 3 juta, kita kalikan 26 hari kerja berarti Rp 78 juta per bulan,” ujar Adies Kadir dalam video yang kemudian diunggah ulang oleh Jerome Polin melalui fitur stitch.

Jerome, yang dikenal aktif mengedukasi publik soal pentingnya belajar matematika, menyampaikan kritik terhadap logika perhitungan tersebut. Ia menuliskan komentarnya sambil menunjukkan perhitungan di papan tulis.

Baca Juga :  Presiden Donald Trump Akan Tandatangani RUU Akhiri Shutdown Pemerintahan AS

“Ini serius kayak gini logika berhitungnya?? Sedih sekali aku sebagai orang yang selalu mengedukasi tentang pentingnya belajar matematika, Get well soon Indonesia,” tulis Jerome Polin.

Jerome menjelaskan bahwa tunjangan rumah DPR sebesar Rp 50 juta per bulan seharusnya dibandingkan dengan biaya kos yang juga dihitung per bulan, bukan dikalikan dengan jumlah hari kerja.

“Nah sudah sama nih, per bulan. Artinya masuk duit Rp 50 juta, keluar Rp 3 juta untuk kos. Artinya apa? Dapat untung, untuk per bulannya 50 dikurangi 3 sama dengan 47 juta. Kenapa harus dikali 26 hari kerja? Kalau dikali 26 hari kerja, bulan sama hari gak boleh dikaliin. Kalau dikaliin 3 dikali 26 jadi 78 juta per bulan, itu artinya Rp 3 jutanya per hari,” jelasnya.

Baca Juga :  Acha Septriasa Pilih Tetap Tinggal di Australia Meski Jadwal Syuting di Indonesia Padat

“Kalau Rp 3 juta per hari itu namanya bukan kos. Itu dapatnya hotel bintang lima Pak,” tambah Jerome.

Selain mengoreksi logika hitung, Jerome juga menyampaikan pendapatnya soal besarnya tunjangan tersebut. Ia menyoroti ketimpangan dengan kondisi para tenaga pendidik dan tenaga kesehatan di Indonesia.

“Tunjangan Rp 50 juta sebulan, sedangkan di luar sana banyak dosen, tenaga pendidik, nakes, gak tahu mau makan apa besok, gak tahu mau tinggal di mana besok, gak tahu bisa hidup apa gak besok. GWS deh,” ucap Jerome sambil menghela napas.

Sementara itu, dalam pernyataan kepada wartawan yang dikutip dari detiknews, Adies Kadir menyebut besaran tunjangan perumahan Rp 50 juta per bulan sebagai pengganti rumah jabatan yang dianggap wajar.

Baca Juga :  Film Horor Alas Roban Siap Tayang, Angkat Urban Legend Jalan Angker Jawa

“Saya kira make sense-lah kalau Rp 50 juta per bulan. Itu untuk anggota, kalau pimpinan nggak dapat tunjangan perumahan karena dapat rumah dinas,” ujar Adies, Selasa (19/8/2025).

Ia menambahkan bahwa harga sewa di sekitar Senayan berkisar Rp 3 juta per bulan, namun menurutnya anggota DPR lebih memilih mengontrak rumah karena tidak nyaman tinggal di kos-kosan.

“Mereka rata-rata gak nyaman (ngekos), jadi kontrak. Kalau kontrak rumah kalau daerah sini Rp 40 sampai 50 jutaan juga. Mereka harus kontrak rumah jadi harus ada parkirnya untuk mobilnya. Garasi,” kata Adies.***

Editor : Alysa

Sumber : detik.com