Sidang Kudeta Bolsonaro Memasuki Babak Penentuan, Jaksa Tegaskan Dugaan Rencana Perebutan Kekuasaan

0
Sidang
Mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro.(Foto : beritasenator.com)

NARASITODAY.COM, BRASIL – Sidang besar terhadap mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro memasuki fase krusial dengan penentuan vonis atas lima dakwaan serius, termasuk percobaan kudeta.

Jaksa Agung Paulo Gonet dalam sidang Selasa (2/9/2025) menyampaikan bahwa bukti-bukti menunjukkan adanya upaya sistematis untuk mempertahankan kekuasaan secara ilegal setelah kekalahan Bolsonaro dalam pemilu 2022 dari Luiz Inacio Lula da Silva.

“Presiden republik dan menteri pertahanan memanggil pimpinan militer guna mempresentasikan dokumen yang meresmikan kudeta, proses kriminal sebenarnya sudah berjalan,” tegas Gonet, seperti dikutip dari Associated Press.

  • Dakwaan Mencakup Rencana Kudeta dan Ancaman Pembunuhan

Gonet menyebut bahwa tindakan Bolsonaro tidak hanya melemahkan kepercayaan publik terhadap sistem pemilu elektronik, tetapi juga menciptakan skenario pembatalan hasil pemilu.

Ia menyebut rangkaian peristiwa yang dijalankan oleh Bolsonaro dan para pembantunya sebagai “serangkaian peristiwa yang saling berkaitan” yang bertujuan mempertahankan kekuasaan.

Dalam dakwaan, jaksa juga mengungkap dugaan rencana pembunuhan terhadap Presiden Lula dan seorang hakim Mahkamah Agung. “Kegagalan untuk menindak upaya semacam ini secara pidana hanya akan memperkuat dorongan otoritarianisme. Hal ini mengancam cara hidup yang beradab,” ujar Gonet.

  • Bolsonaro Membantah, Sebut Persidangan Bermotif Politik
Baca Juga :  Tren Nongkrong Baru, Gorengan Makin Nikmat Dipadukan dengan Segarnya Nipis Madu

Bolsonaro, yang kini berada dalam tahanan rumah, menolak seluruh tuduhan dan menyebut proses hukum sebagai serangan politik. Ia tidak hadir dalam sidang dengan alasan kesehatan, namun menyatakan, “Saya mengikuti [persidangan],” melalui video yang diunggah ke media sosial.

Kuasa hukumnya, Celso Vilardi, menyebut dakwaan tidak berdasar karena dekret darurat yang disebut-sebut tidak pernah dikeluarkan. Ia menegaskan bahwa transisi kekuasaan ke Lula tetap berjalan sesuai konstitusi.

  • Hakim Moraes Tegaskan Imparsialitas Pengadilan

Sidang dipimpin oleh Hakim Mahkamah Agung Alexandre de Moraes, yang menekankan pentingnya netralitas dalam proses hukum. “Sejarah mengajarkan kita bahwa impunitas, pengabaian, dan pengecut bukanlah pilihan untuk perdamaian,” ujarnya.

Baca Juga :  Sidang Lanjutan Kasus Nuansa Bening, Tim Kuasa Hukum Vidi Aldiano Resmi Terdaftar di Pengadilan

Pernyataan Moraes dianggap sebagai sindiran terhadap mantan Presiden AS Donald Trump, yang menyebut sidang Bolsonaro sebagai “perburuan penyihir” dan mengaitkan tarif 50% atas barang Brasil dengan kasus tersebut. Komentar Trump memicu reaksi nasionalis dari sejumlah politisi Brasil.

  • Dakwaan dan Bukti Konspirasi

Bolsonaro menghadapi lima dakwaan: percobaan kudeta, keterlibatan dalam organisasi kriminal bersenjata, upaya penghapusan demokrasi secara paksa, serta dua tuduhan perusakan properti negara. Jika terbukti bersalah atas percobaan kudeta, ia terancam hukuman penjara hingga 12 tahun.

Tujuh sekutu dekatnya juga diadili, termasuk mantan menteri pertahanan Walter Braga Netto dan Paulo Sérgio Nogueira. Jaksa menghadirkan bukti berupa catatan tulisan tangan, file digital, pesan teks, dan dokumen lain yang menunjukkan dugaan konspirasi.

  • Tuduhan Baru dan Larangan Politik

Bolsonaro sebelumnya telah dijatuhi larangan politik hingga 2030 karena menyebarkan keraguan terhadap sistem pemilu. Setelah pembelaan rampung pada Agustus, muncul tuduhan baru bahwa Bolsonaro dan putranya, Eduardo, berusaha menghalangi proses hukum dan berencana melarikan diri ke Argentina untuk mencari suaka.

Baca Juga :  Bangun Budaya Positif di Sekolah, Kemendikbud Luncurkan Peraturan Baru dengan Semangat Gembira dan Partisipatif

Eduardo kini menetap di AS dan mendorong sanksi terhadap Hakim Moraes. Pemerintahan Trump bahkan menjatuhkan sanksi terhadap Moraes, termasuk pembekuan asetnya di AS.

  • Sidang Dianggap Momen Bersejarah

Para pakar menyebut sidang ini sebagai tonggak sejarah karena untuk pertama kalinya seorang pejabat tinggi Brasil diadili atas dugaan percobaan kudeta. Penulis Lucas Figueiredo menyatakan, “Sejarah akan menilai apakah ini 100% berhasil, tetapi yang kita saksikan hari ini adalah pergerakan yang memutus tradisi kudeta militer.”

Presiden Lula menegaskan bahwa proses hukum harus berdasarkan bukti, bukan kepentingan politik. “Tidak ada yang mengadili secara personal,” katanya, sambil mengecam campur tangan Trump. “Tak bisa dipercaya. Saya katakan sekali lagi: Trump tidak dipilih untuk menjadi kaisar dunia.”***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com