Vietnam Bongkar Sindikat Judi Online dan Kripto Internasional, Transaksi Capai Rp63 Triliun

0
Vietnam
Menunjukkan bahaya perjudian online dan masalah keamanan digital. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, VIETNAMVietnam diguncang oleh pengungkapan jaringan kriminal internasional yang mengoperasikan perjudian daring dan investasi kripto ilegal dengan nilai transaksi fantastis mencapai US$ 3,8 miliar atau sekitar Rp63,61 triliun. Pengadilan di negara tersebut telah menjatuhkan hukuman kepada empat bersaudara pelaku utama serta puluhan anggota jaringan lainnya, Kamis (25/9/2025).

Menurut laporan media pemerintah, surat kabar Ho Chi Minh City’s Law menyebutkan bahwa jaringan ini dijalankan oleh empat bersaudara asal Vietnam yang didakwa atas tuduhan mengorganisasi dan terlibat dalam aktivitas perjudian online sejak awal 2020 hingga akhir 2021, sebelum akhirnya ditangkap oleh aparat.

Baca Juga :  BMKG Tegaskan Jabodetabek Masuk Zona Risiko Hujan Lebat dan Bencana Hidrometeorologi

“Pada akhir sidang dua hari di Kota Ho Chi Minh pada Rabu malam, empat bersaudara tersebut dijatuhi hukuman penjara antara delapan sampai 13 tahun,” tulis laporan tersebut, dikutip AFP.

Selain mereka, sebanyak 39 terdakwa lainnya juga dijatuhi hukuman mulai dari tiga tahun masa percobaan hingga lebih dari 10 tahun penjara. Polisi Vietnam kini tengah memburu seorang pria asal India yang diyakini sebagai otak di balik jaringan tersebut.

“Polisi Vietnam juga sedang berupaya menangkap seorang pria India yang diyakini sebagai dalang di balik jaringan tersebut,” lanjut laporan.

Baca Juga :  Kasus Riset Palsu di Konferensi Internasional, Kemdikbud RI Khawatirkan Dampak Terhadap Reputasi Ilmiah Nasional

Jaringan ini diketahui menggunakan keuntungan ilegal dalam jumlah besar untuk membeli properti dan kendaraan mewah di Vietnam, serta melakukan pencucian uang lintas negara. Penyelidikan terpisah terkait pencucian uang kini tengah berlangsung.

Modus operandi mereka melibatkan pembuatan situs web investasi berlapis berbasis mata uang kripto, yang sejatinya ilegal di Vietnam. Pengguna dapat membuka akun, menukar dong Vietnam ke token digital seperti USDT dan Ethereum, lalu mentransfernya ke dompet elektronik untuk digunakan dalam perjudian daring.

Pada masa aktifnya, jaringan ini memiliki sekitar 20.000 pengguna dengan total 25 juta akun. Beberapa pengguna bahkan diberi komisi untuk merekrut penjudi baru melalui Telegram dan media sosial lainnya.

Baca Juga :  Judi Online Picu Konflik Rumah Tangga dan Masalah Sosial Lainnya, PPATK Serukan Intervensi Serius

Menanggapi penyalahgunaan platform, pemerintah Vietnam telah memblokir akses ke Telegram sejak Juni lalu. “Hingga 68% dari 9.600 saluran yang digunakan oleh orang Vietnam di Telegram mengandung informasi beracun dan buruk,” kata Pemerintah Vietnam.

Sebelumnya, pada Februari, media pemerintah juga melaporkan penangkapan hampir 60 orang yang terlibat dalam sindikat penipuan kripto lintas negara. Mereka diduga menipu warga Vietnam dengan modus investasi Bitcoin melalui aplikasi seluler, lalu menguras dana para korban.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com