BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Masa Peralihan Musim

0
BMKG
Ilustrasi payung abu-abu dan merah basah setelah hujan. Foto : Istock

NARASITODAY.COM – Indonesia saat ini tengah memasuki masa transisi dari musim kemarau menuju musim hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa periode peralihan ini berpotensi memunculkan fenomena cuaca ekstrem yang dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.

Menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, puncak musim hujan di berbagai wilayah Indonesia akan terjadi secara bertahap dan berbeda-beda.

“Puncak musim hujan itu setiap wilayah itu bervariasi antara bulan November hingga Desember 2025, terutama di sebagian besar Sumatera dan Kalimantan. Kemudian puncak musim hujan yang diprediksi akan terjadi di bulan Januari hingga Februari adalah di sebagian besar Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua,” jelas Dwikorita, dikutip dari unggahan resmi BMKG pada Rabu (1/10/2025).

Baca Juga :  5 Perspektif Positif Saat Kamu Terjebak Hujan di Luar Rumah

Dwikorita menekankan bahwa potensi bencana bisa terjadi hampir sepanjang bulan selama masa peralihan ini. Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat, pemerintah daerah, dan pihak terkait untuk aktif memantau informasi cuaca serta peringatan dini yang disampaikan BMKG melalui berbagai kanal, termasuk aplikasi ponsel.

Baca Juga :  Kolaborasi DPRD Kabupaten Bogor dan Pemkab Bogor Wujudkan Pembangunan Inklusif dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat

“Sehingga kami mohon dengan adanya peringatan dini ini, mohon untuk segera dilakukan aksi dini. Jadi tidak sekadar dibaca ya, tapi juga aksi dini minimal meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat yang berada di daerah rawan,” tegasnya.

Baca Juga :  Natal dan Tahun Baru 2026 Diprediksi Jadi Musim Hujan Terbesar, BMKG Ingatkan Waspada

Meski demikian, Dwikorita juga menyoroti sisi positif dari musim hujan. Menurutnya, dengan pengelolaan air yang tepat, curah hujan dapat dimanfaatkan untuk mendukung sektor pertanian. “Namun, ada sisi positifnya, air hujan ini dengan sistem tata kelola air yang tepat, dapat dimanfaatkan untuk kepentingan misalnya pertanian,” tambahnya.***

Editor : Alysa

Sumber : detik.com