NARASITODAY.COM, SUMENEP- Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo (M) 6,0 mengguncang wilayah Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, pada Selasa (30/9/2025) malam pukul 23.49 WIB. Pusat gempa berada di laut pada kedalaman 12 kilometer, sekitar 58 kilometer tenggara Sumenep.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa ini dipicu aktivitas sesar aktif di dasar laut, yang berasosiasi dengan perpanjangan sesar offshore Zona Kendeng atau Madura Strait Back Arc Thrust. Mekanisme sumber gempa menunjukkan pergerakan naik (thrust fault).
Dampak guncangan dirasakan cukup kuat di Pulau Sapudi pada skala intensitas V-VI MMI, hingga merusak bangunan rumah. Di wilayah Sumenep, Pamekasan, hingga Surabaya, guncangan dirasakan pada skala III-IV MMI. Getaran juga terasa di beberapa daerah lain seperti Tuban, Denpasar, Gianyar, Banyuwangi, Lombok, Malang, hingga Blitar dengan skala II-III MMI.
Kerusakan dan Korban
Data sementara mencatat total 154 bangunan rusak akibat gempa, terdiri dari rumah, fasilitas ibadah, sekolah, dan fasilitas kesehatan. Rinciannya:
Kecamatan Gayam: 121 rumah, 6 masjid, 1 musholla, 8 sekolah, dan Puskesmas lantai 2 rusak ringan.
Kecamatan Nonggunong: 17 rumah, 2 masjid, 1 musholla, 3 sekolah.
Kecamatan Talango: 1 rumah rusak.
Kecamatan Batang-Batang: 1 rumah di Desa Benuaju Timur rusak.
Selain kerusakan bangunan, enam warga dilaporkan luka-luka dan dirawat di Puskesmas Gayam.
Rangkaian Gempa Susulan
Hingga Rabu (1/10) pukul 12.00 WIB, BMKG mencatat 117 kali gempa susulan (aftershocks), dengan magnitudo terbesar M4,4 dan terkecil M1,9.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, menjelaskan bahwa wilayah Sumenep memiliki catatan sejarah gempa merusak yang panjang, termasuk gempa M6,4 di Sapudi pada 11 Oktober 2018 yang menewaskan 3 orang, melukai 34 orang, serta merusak 210 rumah.
Selain rawan gempa, kawasan ini juga memiliki tiga catatan sejarah tsunami, yakni tsunami Pulau Genteng (1843), tsunami Sumenep (1889), dan tsunami Madura (1820).
“Secara tektonik, Sumenep adalah kawasan paling rawan gempa dan tsunami di Madura. Faktor hiposenter dangkal, tanah lunak, dan bangunan yang tidak tahan gempa memperparah dampak kerusakan,” ungkapnya.***
Editor : Andreas
Sumber : Berbagai Sumber














