Motif Sadis di Balik Mutilasi Remaja Hamil di Desa Gunungsari, Serang Terungkap

0
Ilustrasi Mutilasi

NARASITODAY.COM – Hutan karet yang sunyi di Kampung Ciberuk, Desa Gunungsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, menyimpan kisah pilu yang menggemparkan. Di kedalaman perkebunan itu, nyawa SA (19), seorang wanita hamil, direnggut dengan cara yang mengerikan.

Pelakunya tak lain adalah ML (23), pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kehamilannya. Penolakan untuk menikah menjadi pemicu amarah yang berujung pada mutilasi sadis.

Kisah tragis ini bermula pada Sabtu (13/4) siang. ML menjemput SA dari rumah kakeknya di daerah Ciomas dengan dalih sederhana. “‘Dalihnya ngajak makan bakso di daerah Ciomas,'” ungkap Kasat Reskrim Polresta Serang Kota Kompol Salahuddin, Minggu (20/4), membuka tabir kebohongan yang berujung maut.

Namun, bakso yang dijanjikan tak pernah ada. Dalam perjalanan, SA justru dibawa menuju kawasan Gunung Kupa di Kecamatan Gunungsari. Alasan ML saat itu adalah ingin melakukan Cash On Delivery (COD) barang dengan seseorang. Sebuah kebohongan lain yang mengantarkan SA semakin jauh dari keramaian dan menuju jurang malapetaka.

Baca Juga :  Presiden Filipina Perpanjang Larangan Impor Beras Hingga Akhir 2025 untuk Lindungi Petani Lokal

Di Gunung Kupa, SA dibawa ke sebuah perkebunan karet yang terpencil, jauh dari jangkauan mata dan telinga masyarakat. Di sanalah, keberanian SA untuk menuntut pertanggungjawaban cintanya mencapai puncaknya. “‘Korban meminta pelaku menikahinya, tapi pelaku nolak,'” kata Kompol Salahuddin, menggambarkan penolakan yang menjadi titik balik tragedi ini.

Penolakan itu rupanya menyulut emosi ML. Dari perkebunan karet yang pertama, pelaku membawa SA lebih jauh ke dalam area perkebunan yang lebih terpencil. “‘Pelaku turun dari motor, mengajak korban masuk lebih dalam ke area kebun dengan dalih ingin membicarakan kehamilan,'” pungkas Kompol Salahuddin, menjelaskan taktik pelaku untuk membawa korban ke tempat yang lebih aman untuk melancarkan aksi kejinya. Di sanalah, di tengah kesunyian hutan karet, nyawa SA direnggut dengan cara yang brutal.

Baca Juga :  Belasan Rumah Di Gunung Picung Diterpa Angin Kencang

Kengerian ini terungkap pada Jumat (18/5) sore, sekitar pukul 17.00 WIB. Seorang warga yang tengah membabat rumput di dekat sawah di Desa Gunung Sari dikejutkan oleh penemuan sesosok mayat perempuan tanpa kepala, kedua tangan, dan kedua kaki. Penemuan mengerikan itu segera dilaporkan kepada pihak kepolisian.

Kapolsek Pabuaran Iptu Suwarno membenarkan penemuan mayat tersebut. “‘Iya, kemarin temuan mayat sudah olah TKP mayatnya, sudah di rumah sakit Bhayangkara,'” ujarnya kepada detikcom, Sabtu (19/4). Jenazah SA kemudian dibawa ke RS Bhayangkara, Kota Serang, untuk menjalani autopsi, mengungkap identitas dan penyebab pasti kematiannya.

Baca Juga :  5 Sikap Humble yang Dapat Mengubah Cara Orang Melihatmu dan Meningkatkan Interaksi Sosial!

Penyelidikan pun bergerak cepat. Hari ini, tim kepolisian kembali menyisir lokasi penemuan mayat untuk mencari bagian tubuh SA yang hilang. “‘(Korban) perempuan. Kalau dari ininya (organ tubuh hilang) dipotong tubuh bagian kepala, tangan, dan kaki,'” papar Iptu Suwarno, menggambarkan betapa mengerikannya tindakan pelaku.

Kisah tragis SA menjadi pengingat betapa rapuhnya nyawa di tangan orang yang gelap mata. Penolakan cinta dan tanggung jawab berujung pada tindakan keji di tengah sunyinya perkebunan karet.

Kini, keadilan bagi SA dan bayi yang dikandungnya menjadi harapan, seiring dengan proses hukum yang akan mengungkap secara tuntas kengerian di balik rimbunnya pepohonan.***