NARASITODAY.COM – keheningan Kelurahan Cipaku, Bogor Selatan, Kota Bogor, pecah oleh kobaran api yang ganas. Bukan hanya satu, melainkan empat unit bangunan ludes dilalap si jago merah. Ironisnya, petaka ini bermula dari tempat yang seharusnya menyajikan kehangatan: sebuah lapak pedagang nasi goreng.
“Ada empat unit bangunan yang terbakar. (Yakni) Rumah tinggal, bengkel, warung sembako, warung nasi goreng,” ungkap Kabid Pemadaman dan Penyelamatan Dinas Damkar Kota Bogor M Ade Nugraha, memberikan gambaran tentang dahsyatnya amukan api yang tak pandang bulu.
Waktu menunjukkan pukul 23.30 WIB ketika alarm bahaya berbunyi, memecah kesunyian malam. Warga yang terlelap sontak terbangun oleh kepulan asap dan kobaran api yang kian membesar. Sumber api, menurut saksi mata, berasal dari warung nasi goreng yang malang, sebelum akhirnya merayap dan memangsa bangunan-bangunan di sekitarnya.
“‘Menurut saksi awal mula terjadinya kebakaran, saksi melihat api yang membesar dari tukang nasi goreng. Lalu merambat pada warung sembako, lalu merambat kembali ke rumah warga,'” jelas Ade dalam keterangan tertulisnya, menggambarkan bagaimana api dengan cepat menemukan jalannya untuk meluas.
Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih menjadi misteri yang diselidiki oleh pihak berwenang. “‘Penyebab kebakaran belum diketahui, masih dalam penyelidikan pihak terkait,'” imbuh Ade, menyisakan tanda tanya di benak para korban dan warga sekitar.
Namun, di tengah kepanikan dan kerugian, solidaritas dan kesigapan tim pemadam kebakaran patut diacungi jempol. Sebanyak sembilan unit mobil pemadam, tujuh di antaranya dari Kota Bogor dan dua unit bantuan dari Kabupaten Bogor, bergegas menuju lokasi kejadian. Mereka berjibaku dengan kobaran api selama kurang lebih 30 menit, hingga akhirnya si jago merah berhasil ditaklukkan.
“‘Total 9 unit yang diterjunkan, 7 unit dari Kota Bogor dan 2 unit perbantuan dari Kabupaten Bogor,'” kata Ade, merinci kekuatan yang dikerahkan untuk mengatasi musibah ini.
Kabar baiknya, di tengah kerugian materi yang diperkirakan mencapai Rp 200 juta, tidak ada laporan mengenai korban luka maupun jiwa. “‘Untuk korban luka maupun jiwa nihil. Kerugian ditaksir kurang lebih Rp 200 juta,'” lanjut Ade, sebuah kelegaan di tengah duka yang melanda.
Kisah kebakaran di Cipaku ini menjadi pengingat akan bahaya laten yang bisa mengintai di mana saja, bahkan dari sebuah lapak nasi goreng yang sederhana. Meski penyebabnya masih dalam penyelidikan, semangat gotong royong dan kesigapan petugas pemadam kebakaran menjadi secercah harapan di tengah kerugian yang dialami para korban. Semoga, di balik sisa-sisa bangunan yang menghitam, semangat untuk bangkit kembali segera menyala.***














