Suriname Bersiap Menjadi Salah Satu Ekonomi dengan Pertumbuhan Tercepat Dunia Tahun 2028

0
ekonomi
Ilustrasii Bendera nasional Suriname berlatar langit biru. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, SURINAMEDi balik ketenangan hutan tropis dan sejarah kolonialnya, Suriname kini berdiri di ambang transformasi besar. Negara kecil di Amerika Selatan yang dikenal sebagai rumah bagi diaspora Jawa ini diprediksi akan mengalami lonjakan ekonomi luar biasa berkat potensi minyak bumi yang mulai digali.

Mulai tahun 2028, Suriname diperkirakan akan menjadi salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Proyeksi kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) bahkan disebut bisa melampaui 50%, didorong oleh produksi minyak lepas pantai yang dipimpin oleh perusahaan energi asal Prancis, TotalEnergies. Proyek ini diperkirakan akan menghasilkan sekitar 220.000 barel per hari.

Meskipun angka tersebut belum menjadikan Suriname sebagai kekuatan energi global, dampaknya terhadap negara berpenduduk sekitar 650.000 jiwa ini diprediksi akan sangat signifikan.

Baca Juga :  Pemkab Bogor Ditegur Kementerian Lingkungan Hidup Soal Sampah, Cabup Bogor Rudy Susmanto Siap Selesaikan

Mengikuti Jejak Guyana Kisah Suriname mengingatkan pada tetangganya, Guyana, yang ekonominya melesat dengan pertumbuhan tahunan lebih dari 40% setelah ekspor minyak melonjak. Suriname telah mengamati perkembangan di seberang perbatasan itu dan bersiap menyusul.

Namun, titik awal Suriname berbeda. Negara ini masih bergulat dengan inflasi dan beban utang, meski memiliki indikator pembangunan manusia yang lebih baik dibanding Guyana. Hubungan institusional yang kuat dengan Belanda menjadi salah satu keunggulan Suriname.

“Hal ini berarti, pendapatan minyak yang lebih kecil sekalipun berpotensi untuk menjangkau dan mengangkat lebih banyak rakyat secara berkelanjutan,” ujar wartawan senior Arick Wierson, Senin (20/10/2025).

Baca Juga :  Warga Teheran Teriakkan Slogan Anti Pemimpin Tertinggi Saat Peringatan Malam Revolusi Islam 1979

Tantangan Utang dan Distribusi Kekayaan Meski prospek ekonomi terlihat cerah, tantangan besar tetap membayangi. Sebagian besar utang Suriname jatuh tempo sebelum aliran minyak dimulai. Pemerintah harus segera melakukan pembiayaan ulang tanpa menimbulkan kepanikan di kalangan investor.

“Pasiennya jelas sedang tidak baik secara ekonomi, ia membutuhkan obat. Obat yang Anda berikan kepada pasien, untuk memperbaiki pasien, harus diberikan dengan cara yang memang harus diberikan,” kata Presiden Suriname, Jennifer Geerlings-Simons, dalam wawancara dengan Newsweek.

Presiden Geerlings-Simons juga menekankan pentingnya pemerataan manfaat dari pendapatan minyak. “Rakyat Suriname dan perusahaan Suriname harus berpartisipasi dalam segala hal yang akan dibawa oleh minyak. Jika tidak, sebagian orang akan menjadi kaya, dan rakyat saya akan tetap miskin dan itu bukan yang kami inginkan,” tegasnya.

Baca Juga :  Trump Perintahkan Kawalan Tanker di Selat Hormuz, Klaim Serangan ke Iran untuk Cegah Perang Lebih Besar

Hutan sebagai Aset Strategis Di luar sektor energi, Suriname memiliki aset lingkungan yang luar biasa: sekitar 93% wilayahnya masih berupa hutan, menjadikannya negara dengan tutupan hutan tertinggi di dunia. Ini memberi Suriname posisi penting dalam diplomasi iklim dan potensi pendapatan dari kredit karbon.

Presiden Geerlings-Simons menegaskan bahwa pendapatan dari minyak tidak bertentangan dengan pelestarian lingkungan. “Kami pikir uang dari minyak akan … membantu kami melindungi hutan (kami),” ujarnya. “(Pendapatan dari minyak) juga akan memberi kami waktu untuk mengembangkan cara-cara menghasilkan uang dari hutan kami. Ini akan membutuhkan waktu untuk mewujudkannya.” ***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber