NARASITODAY.COM, JAKARTA – Hormon kortisol, atau yang sering disebut sebagai hormon stres, berperan penting dalam menjaga keseimbangan tubuh. Hormon ini membantu mengatur tekanan darah, kadar gula, serta mengendalikan peradangan. Namun, ketika stres berlangsung terlalu lama, kadar kortisol dapat meningkat secara terus-menerus dan mulai memberi dampak negatif, baik secara fisik maupun emosional.
Tidak hanya memengaruhi suasana hati, kelebihan hormon kortisol juga bisa terlihat dari penampilan luar. Mulai dari wajah yang tampak membulat hingga kulit kusam, tubuh sebenarnya sedang memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak seimbang di dalamnya.
1. Berat Badan Bertambah di Wajah dan Perut
Salah satu tanda paling umum dari tingginya kadar kortisol adalah penumpukan lemak di area wajah dan perut. Kondisi ini disebut sebagai “obesitas sentral,” di mana bagian tengah tubuh tampak membesar meski berat badan total tidak berubah signifikan.
Penelitian dalam The Archives of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences menyebutkan bahwa kortisol memicu tubuh menyimpan lemak di sekitar organ vital, yang sekaligus meningkatkan risiko penyakit metabolik seperti diabetes dan tekanan darah tinggi. Tak jarang, wajah pun tampak lebih bulat akibat retensi air yang disebabkan oleh hormon ini.
2. Penuaan Dini dan Masalah Kulit
Dampak stres kronis juga dapat terlihat jelas pada kulit. Kortisol diketahui memecah kolagen, yaitu protein yang menjaga elastisitas dan kekenyalan kulit. Akibatnya, kulit menjadi lebih kendur, muncul garis halus, dan terlihat kusam.
Selain itu, kadar kortisol tinggi bisa memicu produksi minyak berlebih yang menyebabkan jerawat, terutama di area dagu dan dahi. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa kulit orang dengan stres berkepanjangan cenderung lebih sensitif dan sulit sembuh dari luka.
Menurut laporan di ScienceDirect, peningkatan rata-rata kadar kortisol dalam tubuh memiliki kaitan erat dengan proses penuaan dini.
3. Rambut Menipis dan Pertumbuhan Melambat
Rambut rontok yang tidak biasa bisa jadi sinyal bahwa kadar kortisol meningkat. Stres kronis mempersingkat fase pertumbuhan rambut, membuat folikel lebih cepat masuk ke fase istirahat dan berhenti memproduksi rambut baru — kondisi ini dikenal dengan istilah telogen effluvium.
Studi dari National Institute of Health menemukan bahwa stres jangka panjang memengaruhi sel punca di folikel rambut, yang menyebabkan pertumbuhan melambat dan rambut tampak lebih tipis.
4. Penyusutan Otot dan Perubahan Postur Tubuh
Kortisol yang terlalu tinggi juga dapat memicu pemecahan protein dalam otot. Tubuh menggunakan jaringan otot sebagai sumber energi ketika berada dalam kondisi stres berkepanjangan, sehingga massa otot berkurang.
Dampaknya, tubuh terasa lebih lemah dan postur bisa berubah karena berkurangnya kekuatan di area punggung, bahu, dan kaki. Dalam jangka panjang, kondisi ini juga dapat menurunkan kepadatan tulang dan meningkatkan risiko nyeri punggung bawah.
Cara Mengendalikan Kortisol dalam Tubuh
Mengelola stres bukan berarti harus benar-benar menghilangkannya, melainkan menyeimbangkannya agar kadar kortisol tetap stabil. Beberapa cara sederhana dapat membantu, seperti berolahraga secara teratur, tidur cukup, serta melakukan latihan pernapasan dalam.
Mengurangi konsumsi kafein dan menjaga pola makan dengan nutrisi seimbang juga penting untuk menjaga kestabilan hormon. Selain itu, luangkan waktu untuk relaksasi — entah melalui meditasi, berjalan santai, atau sekadar melakukan hobi yang menyenangkan.
Jika gejala akibat stres kronis terus berlanjut, sebaiknya lakukan pemeriksaan medis. Dalam beberapa kasus, kadar kortisol yang terlalu tinggi dapat menjadi tanda gangguan endokrin yang memerlukan penanganan lebih lanjut. (MG3)
Editor : Mutiara
Sumber : tabloidbintang.com














