Xi Kritik Tersirat Kebijakan Relokasi Industri AS dalam Pidato APEC 2025

0
Xi
Presiden Tiongkok Xi Jinping. Foto : rm.id

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Presiden China Xi Jinping menyampaikan peringatan tegas kepada negara-negara di kawasan Asia-Pasifik agar tetap mendukung perdagangan bebas dan menjaga kelancaran rantai pasok global.

Peringatan ini ia sampaikan dalam sesi pembukaan pertemuan para pemimpin ekonomi APEC di Korea Selatan, Jumat (31/10/2025), sehari setelah menyepakati penarikan sebagian tarif impor dengan Presiden AS Donald Trump.

“Makin bergejolak masa-masa itu, makin kita harus bekerja sama,” ujar Xi seperti dikutip CNBC International.

Baca Juga :  Bau Ketiak di Baju? Berikut Cara Mudah untuk Menghilangkannya Secara Alami

Walaupun Xi tidak secara eksplisit menyebut Amerika Serikat atau isu tarif dalam pidatonya, ajakannya untuk “memperluas” rantai pasok dan bukan “memutuskan hubungan” antarnegara secara tersirat mengkritisi kebijakan Washington yang mendorong relokasi industri manufaktur kembali ke dalam negeri.

Dalam pertemuan bilateral sebelumnya dengan Trump, Xi menekankan bahwa kemajuan dan kebangkitan ekonomi China “berjalan sejalan dengan visi Presiden Trump untuk ‘Make America Great Again.'”

Baca Juga :  Mobil Pengangkut Program MBG Tabrak Puluhan Pelajar 

Melalui forum APEC, Xi mengusulkan lima bentuk kerja sama, di antaranya memperkuat sistem perdagangan multilateral, menciptakan iklim ekonomi yang terbuka, serta mendorong perdagangan hijau dan digital.

Seruan Xi muncul di tengah meningkatnya dominasi ekonomi China di Asia, yang sebagian besar dipicu oleh ketegangan perdagangan berkepanjangan dengan Amerika Serikat selama tujuh tahun terakhir.

Saat ini, ASEAN telah menyalip Uni Eropa sebagai mitra dagang terbesar China.

Baca Juga :  Terungkap Harga Asli LPG 3 Kg Rp 42.750, Pemerintah Subsidi Rp 30.000 per Tabung

China juga memperkuat keterlibatannya di kawasan melalui investasi besar-besaran. Pada kuartal ketiga 2025, perusahaan-perusahaan China mengumumkan investasi senilai US$15,4 miliar atau sekitar Rp256 triliun di Asia, angka tertinggi sejak pandemi, dengan fokus pada pengembangan pusat data dan bahan baku baterai.

Xi turut menegaskan komitmen China untuk terus “membuka” pasar domestiknya bagi pelaku usaha asing dan menciptakan peluang baru bagi kawasan Asia-Pasifik serta dunia.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com