NARASITODAY.COM, JAKARTA – Kamerun kembali dilanda aksi protes berdarah menyusul terpilihnya kembali Presiden Paul Biya. Tindakan keras yang dilakukan oleh pasukan keamanan terhadap para demonstran yang menolak hasil pemilihan umum dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 48 warga sipil, menurut dua sumber Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Mayoritas korban tewas akibat tembakan peluru tajam, sementara sisanya meninggal karena pukulan benda tumpul seperti tongkat dan kayu.
Salah satu sumber PBB menyampaikan kepada Reuters, yang dikutip pada Rabu (5/11/2025):
“Data lapangan menunjukkan mayoritas korban adalah warga sipil yang tidak bersenjata.”
Kekerasan terparah dilaporkan terjadi di wilayah pesisir, termasuk Douala, kota pelabuhan utama Kamerun. Di Douala, PBB juga mencatat tiga polisi turut tewas. Selain itu, 10 korban jiwa tercatat di wilayah utara, termasuk Garoua, yang merupakan kampung halaman pesaing utama Biya, Issa Tchiroma Bakary.
Sebelum data PBB dirilis, kelompok masyarakat sipil Stand Up for Cameroon telah melaporkan bahwa setidaknya 23 orang tewas pada pekan sebelumnya akibat represi aparat.
Pemerintah Presiden Biya, yang kini berusia 92 tahun dan telah menjabat sejak tahun 1982, belum memberikan pernyataan resmi mengenai jumlah korban. Juru bicara pemerintah juga belum menanggapi permintaan komentar terkait insiden tersebut.
Biya diumumkan memenangkan pemilu dengan perolehan suara 53,66%, mengalahkan pesaing utamanya, Issa Tchiroma Bakary, yang mendapatkan 35,19%. Bakary, seorang mantan menteri yang mengundurkan diri pada Juni, menolak hasil pemilu dan mengklaim dirinya sebagai pemenang yang sah.
Meskipun ketegangan sempat mereda, pihak oposisi menyerukan “karantina nasional” selama tiga hari sebagai bentuk protes damai terhadap hasil pemilu. Sementara itu, Biya dijadwalkan akan dilantik pada Kamis (6/11/2025) untuk masa jabatan kedelapan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














