Rusia Siap Perkuat Aliansi dengan Venezuela di Tengah Ketegangan dengan AS

0
Rusia
Ilustrasi Museum Sejarah, Katedral. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, MOSKOW — Pemerintah Rusia menyatakan kesiapan untuk memperkuat aliansi strategis dengan Venezuela di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Caracas. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, pada Selasa (11/11/2025), menyusul pengerahan kekuatan militer AS di dekat wilayah Venezuela.

Lavrov menegaskan bahwa Moskow “siap bertindak sepenuhnya dalam kerangka kewajiban” dari perjanjian kemitraan strategis yang ditandatangani antara Rusia dan Venezuela pada Mei lalu. Aliansi tersebut semakin menguat seiring peningkatan aktivitas militer AS di kawasan tersebut.

Seorang pejabat senior Rusia mengisyaratkan kemungkinan pengiriman rudal balistik jarak menengah eksperimental Oreshnik ke Venezuela. Rudal tersebut pertama kali diperkenalkan Rusia dalam serangan di Ukraina tengah pada tahun sebelumnya.

Baca Juga :  Putin Buka Peluang Negosiasi Damai, Tapi Siap Tempuh Jalur Militer Jika Diperlukan

“Kami memasok negara itu dengan hampir seluruh jajaran senjata, mulai dari senjata ringan hingga pesawat terbang,” ujar Alexei Zhuravlev, anggota komite pertahanan Duma Negara Rusia.

“Meskipun rincian senjata bersifat rahasia, tidak ada hambatan untuk memasok negara sahabat dengan pengembangan baru seperti Oreshnik atau rudal jelajah Kalibr, yang telah digunakan secara ekstensif terhadap target Ukraina. Orang Amerika bisa mendapatkan beberapa kejutan,” tambahnya.

Ketegangan meningkat setelah kapal induk terbesar di dunia milik AS, USS Gerald R. Ford, bersama tiga kapal perang lainnya, tiba di perairan dekat Venezuela pada Selasa. Langkah ini memicu spekulasi mengenai kemungkinan upaya Presiden Donald Trump untuk menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.

Baca Juga :  Wamendagri Akhmad Wiyagus Kukuhkan 1.058 Praja Pratama IPDN Angkatan XXXVI

Sebagai respons, Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino López, memerintahkan mobilisasi 200.000 tentara di seluruh negeri sebagai bentuk perlawanan terhadap “ancaman yang ditimbulkan oleh AS.” Pemerintah Venezuela juga mengajukan protes keras atas pengerahan militer tersebut, sambil menyerukan perdamaian dan menegaskan kesiapan menghadapi potensi serangan.

Ketegangan ini terjadi di tengah kampanye militer AS terhadap penyelundupan narkoba dari Amerika Latin. Serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat dalam penyelundupan di Karibia selatan dan Pasifik Timur telah menewaskan sedikitnya 75 orang sejak September.

Baca Juga :  Menteri PPPA Arifah Fauzi Sampaikan Permohonan Maaf Terkait Usulan Gerbong Wanita di KRL

Aksi militer AS tersebut turut memengaruhi hubungan dengan sekutu-sekutunya di kawasan. Presiden Kolombia, Gustavo Petro, memerintahkan pasukan keamanan dan intelijen untuk menghentikan pembagian komunikasi dengan AS selama operasi militer berlangsung.

Laporan terpisah juga menyebut bahwa Inggris telah menangguhkan pembagian intelijen dengan AS karena kekhawatiran terhadap pelanggaran hukum internasional, menambah tekanan diplomatik terhadap Washington.****

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com