NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada Senin (17/11/2025) menegaskan bahwa ia tidak akan mengesampingkan opsi pengerahan pasukan AS ke Venezuela.
Di saat yang sama, pernyataan Trump juga mengindikasikan dibukanya peluang negosiasi langsung dengan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, sebuah sinyal yang menunjukkan pemerintahannya siap meningkatkan ketegangan militer sambil tetap membuka pintu diplomatik.
Ketika ditanya wartawan di Gedung Putih apakah ia akan menepis opsi pengerahan pasukan darat ke negara Amerika Selatan itu, Trump menjawab lugas, “Tidak, saya tidak menutup kemungkinan itu. Saya tidak menutup apa pun.”
Namun, di tengah ancaman tersebut, Trump juga menunjukkan sikap terbuka untuk berdialog dengan Maduro. “Saya mungkin akan berbicara dengannya, ya. Saya berbicara dengan siapa saja,” ujarnya saat ditanya mengenai kesediaannya bernegosiasi.
Latar Belakang Tensi Militer dan Tuduhan Narkotika
Pernyataan Trump ini muncul di tengah eskalasi militer AS di kawasan Karibia. Dalam beberapa waktu terakhir, AS telah melancarkan serangkaian serangan mematikan terhadap kapal-kapal yang dicurigai membawa narkotika di lepas pantai Venezuela dan wilayah Pasifik Amerika Latin.
Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, berulang kali menuduh bahwa pengerahan militer AS yang masif di Karibia bertujuan untuk menjatuhkan dirinya dari kekuasaan.
Pada Minggu (16/11/2025), Pentagon mengumumkan pergerakan kekuatan militer signifikan, termasuk kapal induk terbesar AS, USS Gerald R. Ford, bersama kelompok tempurnya yang membawa sekitar 5.000 personel dan puluhan jet tempur, menuju Karibia. Armada ini menambah kekuatan delapan kapal perang, satu kapal selam nuklir, dan pesawat F-35 yang sudah dikirim lebih dulu ke kawasan.
Secara resmi, fokus operasi militer AS adalah memerangi perdagangan narkotika. AS menuduh kelompok Cartel de los Soles, yang diyakini AS melibatkan pejabat tinggi Venezuela termasuk Maduro, sebagai organisasi teroris asing.
Pembeda: Minat Negosiasi dan Sumber Daya Venezuela
Sikap ganda Trump ancaman militer dan tawaran dialog menjadi perhatian. Seorang pejabat senior Gedung Putih yang meminta identitasnya dirahasiakan menekankan bahwa fokus utama AS tetap memerangi narkoba, meskipun Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.
Pejabat tersebut menambahkan bahwa minat Trump untuk mendengar proposal dari Caracas tidak berarti ancaman militer akan dicabut. “Hanya karena presiden mungkin tertarik mendengar apa yang ingin disampaikan Venezuela, bukan berarti opsi militer hilang dari meja,” jelas pejabat tersebut.
Di sisi lain, operasi militer AS di perairan Karibia telah menuai kritik keras. Kelompok hak asasi manusia mengecam serangan terhadap kapal-kapal yang diduga membawa narkoba sebagai “pembunuhan di luar proses hukum terhadap warga sipil.” Namun, Gedung Putih dengan tegas membela diri, menyatakan bahwa AS sedang berperang melawan kartel narkoba dan menegaskan bahwa “pengadilan tidak dibutuhkan dalam konflik bersenjata.”
Trump juga mengungkapkan keinginannya untuk “menghancurkan pabrik-pabrik kokain di Kolombia,” meskipun belum ada intervensi militer langsung yang diumumkan di negara tersebut.
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














