NARASITODAY.COM, JAKARTA — Sebuah penelitian terbaru oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan adanya kontaminasi limbah obat-obatan di perairan Jakarta, memperburuk masalah pencemaran yang sudah ada. Temuan ini menegaskan bahwa obat-obatan farmasi telah menjadi polutan baru di dalam siklus air ibu kota.
Setelah sebelumnya mendapati kontaminasi parasetamol (acetaminophen) di Teluk Jakarta pada tahun 2021, riset terbaru Senior Researcher BRIN, Wulan Koagouw, bersama tim peneliti dari BRIN, Laboratorium Kesehatan DKI Jakarta, dan dua universitas di Inggris, kini mendeteksi obat diabetes metformin di tiga dari enam titik sampel di Sungai Angke.
Temuan ini diceritakan Koagouw dalam tulisannya berjudul “Setelah temuan parasetamol di Teluk Jakarta, riset temukan obat diabetes terdeteksi di sungai ibu kota” yang diterbitkan The Conversation pada 14 November 2025.
Metformin adalah obat yang umum digunakan untuk mengontrol kadar gula darah penderita diabetes tipe 2. Keunikan senyawa ini menjadi masalah lingkungan:
“Tidak seperti obat pada umumnya, metformin tidak hancur diolah oleh tubuh manusia, dan keluar hampir utuh melalui urine.”
Oleh karena itu, obat tersebut langsung masuk ke sistem pembuangan rumah tangga melalui urine. Koagouw menjelaskan, di kota metropolitan seperti Jakarta, sebagian besar limbah dari toilet domestik berujung di sungai tanpa diolah secara memadai, membuat Sungai Angke menerima beban pencemaran dari berbagai sumber, termasuk limbah domestik, industri, dan sampah padat.
Analisis kualitas air di enam titik sampel menunjukkan tingkat pencemaran metformin bervariasi antara 27 hingga 414 nanogram per liter (ng/L). Situs dengan kadar tertinggi ditandai dengan air yang sangat keruh, warna pekat, dan kadar mangan (unsur logam) yang tinggi.
“Walau kadarnya tidak separah di negara lain, tapi juga tidak bisa dibilang aman.”
Penelitian Koagouw menemukan bahwa kadar terendah metformin di Sungai Angke lebih tinggi daripada 5% data sungai di dunia, sementara kadar tertingginya lebih tinggi daripada 40% data global, menjadikannya cukup mengkhawatirkan.
Studi-studi sebelumnya sudah membuktikan bahwa metformin memiliki dampak negatif terhadap organisme air, bahkan pada kadar rendah sekitar 100 ng/L. Pada kerang biru (Mytilus edulis), metformin dapat memicu gangguan reproduksi dan kerusakan jaringan. Sementara pada ikan, senyawa ini bisa menghambat perkembangan embrio, pertumbuhan, metabolisme, dan sistem reproduksi.
Yang lebih mengkhawatirkan, Koagouw menyebut metformin sulit terurai secara alami. Tanpa degradasi yang sempurna, senyawa kimia ini dan produk turunannya dapat dengan mudah terkumpul dan masuk kembali ke dalam rantai makanan.
“Pada akhirnya, metformin bisa kembali masuk ke tubuh manusia lewat air minum, ikan, atau sayuran yang menggunakan air tercemar.”
Secara jangka panjang, paparan terhadap residu metmorfin dapat menimbulkan risiko serius bagi kesehatan manusia, meskipun dampak pastinya masih terus diteliti.
Koagouw menekankan perlunya regulasi yang spesifik. Meskipun pemerintah saat ini telah mengatur standar baku mutu air sungai atau limbah, obat-obatan farmasi seperti metformin belum termasuk dalam daftar resmi zat berbahaya yang diatur dalam regulasi.
Ia menyimpulkan, “Keberadaan parasetamol di Teluk Jakarta dan metformin di Sungai Angke menjadi tanda bahwa obat-obatan kini sudah menjadi varian polutan baru di dalam siklus air yang masyarakat gunakan sehari-hari.”
Temuan polutan farmasi ini menambah panjang daftar ancaman polusi di Jakarta. Sebelumnya, Peneliti BRIN Muhammad Reza Cordova mengungkapkan hasil penelitian yang menemukan kandungan partikel mikroplastik berbahaya di air hujan Jakarta, yang berasal dari aktivitas manusia di perkotaan.
“Temuan ini menjadi peringatan bahwa polusi plastik kini tidak hanya mencemari tanah dan laut, tetapi juga atmosfer,” katanya dalam keterangan di situs resmi BRIN, Jumat (17/10/2025).
Reza menambahkan bahwa partikel plastik mikroskopis tersebut terbentuk dari degradasi limbah plastik yang melayang di udara, dan meskipun penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan, studi global menunjukkan bahwa paparan mikroplastik dapat menimbulkan dampak kesehatan serius seperti stres oksidatif, gangguan hormon, hingga kerusakan jaringan.
“Yang beracun bukan air hujannya, tetapi partikel mikroplastik di dalamnya karena mengandung bahan kimia aditif atau menyerap polutan lain,” tegas Reza.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














