NARASITODAY.COM, TEHERAN – Ibu Kota Iran, Teheran, diselimuti kabut asap tebal pada Jumat (21/11/2025), menandakan eskalasi salah satu krisis lingkungan paling mematikan dalam sejarah negara itu. Kondisi cuaca kering yang berkepanjangan dan kekeringan parah telah menciptakan lonjakan drastis dalam tingkat polusi udara.
Mengutip Newsweek, lonjakan udara kotor terjadi di enam kota besar Iran. Di Teheran, tingkat rata-rata particulate matter halus ($PM2.5$) mencapai 103, dengan puncak pagi hari menyentuh 133, yang dikategorikan sebagai “tidak sehat untuk kelompok sensitif.”
Pejabat Organisasi Meteorologi Nasional Iran, Sadegh Ziaian, memperingatkan bahwa kondisi ini akan menjadi pola yang terus berlanjut.
“Langit Teheran akan tetap cerah dengan kabut lokal, dan udara akan mencapai tingkat yang tidak sehat untuk semua kelompok,” tegasnya.
Krisis lingkungan Iran semakin rumit karena adanya konvergensi antara masalah udara, air, dan energi. Menurunnya cadangan air akibat kekeringan telah membatasi produksi pertanian, menimbulkan kekhawatiran serius tentang ketahanan pangan.
Selain itu, kelangkaan pasokan gas memaksa otoritas menerapkan penjatahan listrik dan pemadaman berkala, sementara kelangkaan air juga menyebabkan penjatahan di beberapa bagian Teheran.
Otoritas mengidentifikasi emisi industri, lalu lintas padat dari kendaraan tua, dan pembakaran bahan bakar berkualitas rendah di pembangkit listrik sebagai sumber utama polusi kronis.
Konvergensi polusi, kelangkaan air, dan masalah infrastruktur ini memperdalam kesulitan ekonomi dan meningkatkan kerentanan politik. Tekanan lingkungan telah menjadi katalisator persisten bagi frustrasi publik dan berkontribusi pada kerusuhan berkala di komunitas yang paling terpukul oleh kekeringan dan penurunan layanan publik.
Menanggapi situasi darurat ini, pihak berwenang di Teheran, Isfahan, Mashhad, dan kota-kota lain telah mengeluarkan peringatan kesehatan dan pembatasan darurat. Langkah-langkah tersebut mencakup larangan 24 jam untuk penambangan pasir dan kerikil, penangguhan kegiatan olahraga sekolah, serta penerapan kerja jarak jauh bagi pegawai dengan kondisi pernapasan atau jantung.
Meskipun demikian, masalah mendasar tetap belum terpecahkan. Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahkan memperingatkan bahwa relokasi ibu kota mungkin menjadi langkah yang tidak terhindarkan karena masalah kepadatan penduduk dan tekanan ekologis yang terus meningkat.
Pezeshkian menyarankan wilayah Iran tenggara sebagai lokasi potensial relokasi ibu kota. Namun, ia menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mengatasi krisis ini.
“Melindungi lingkungan bukanlah lelucon. Mengabaikannya berarti menandatangani kehancuran kita sendiri,” ujarnya, menyerukan warga untuk menjaga lingkungan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














