NARASITODAY.COM, JAKARTA – Meski kondisi fisik di wilayah terdampak banjir dan longsor di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh mulai berangsur pulih, para penyintas masih menghadapi tantangan lain yang tak kalah berat: dampak psikologis pascabencana. Banyak korban mengaku masih “dihantui” rasa takut dan memori mengerikan yang mereka alami saat bencana terjadi.
Untuk membantu pemulihan mental para penyintas, sejumlah tim trauma healing diterjunkan ke lokasi. Tenaga dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Polri, hingga universitas dikerahkan untuk memberikan pendampingan, konseling, serta dukungan psikososial.
Psikolog klinis Maharani Octy Ningsih menjelaskan bahwa trauma yang dialami korban dapat dipicu oleh apa yang mereka lihat atau alami secara langsung saat bencana terjadi.
“Bisa saja muncul ketakutan pada air, takut hujan, atau enggan kembali ke lokasi yang sama karena semuanya terhubung dengan memori menakutkan,” jelas Rani.
Reaksi trauma seperti ini wajar muncul akibat pengalaman ekstrem. Namun tanpa penanganan yang tepat, kondisi tersebut bisa berlanjut menjadi gangguan kecemasan, sulit tidur, hingga trauma berkepanjangan.
Upaya pemulihan psikologis di lapangan diharapkan dapat membantu penyintas menata kembali rasa aman, memulihkan emosi, dan mengembalikan fungsi keseharian mereka secara bertahap. Pendampingan jangka panjang juga dibutuhkan agar para korban bisa benar-benar bangkit dari tekanan mental pascabencana ini.
Tragedi ini menjadi pengingat pentingnya memasukkan kesehatan mental sebagai bagian dari penanganan bencana, bukan hanya fokus pada kebutuhan fisik dan logistik. (MG3)
Editor : Mutiara
Sumber : detikHealth













