NARASITODAY.COM, JAKARTA – Di sela-sela riuhnya persiapan libur akhir tahun, sebuah kepastian datang dari meja Kementerian Keuangan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menjadi mercusuar kebijakan Presiden Prabowo Subianto, tetap berada pada jalur yang tepat untuk menyerap seluruh anggaran tahun 2025.
Meski sekolah-sekolah di seluruh penjuru negeri akan mulai memasuki masa libur pada 22 Desember mendatang, kalkulasi pemerintah menunjukkan angka yang solid. Hal ini sekaligus menutup pintu bagi wacana pengalihan dana MBG untuk penanganan bencana alam di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Udah dihitung sampai tanggal 20 itu, pas sekitar 70-an triliun, jadi nggak ada yang bisa dipindahkan (untuk bencana Sumatra) lagi dari MBG,” ujar Purbaya dengan nada optimis saat ditemui media usai konferensi pers APBN KiTa, Kamis (18/12/2025).
Berdasarkan data terbaru hingga 15 Desember 2025, realisasi anggaran MBG telah menyentuh angka Rp52,9 triliun atau sekitar 74,6% dari total pagu Rp71 triliun. Secara kasat mata, masih ada sisa dana yang cukup besar, namun Purbaya menjelaskan bahwa “sisa” tersebut sebenarnya sudah memiliki peruntukan yang jelas dalam proses administrasi.
Menurutnya, sisa pagu tersebut akan segera terserap melalui penyelesaian berbagai tagihan yang saat ini sedang dalam proses pencairan.
“Ada yang belum dibayar segala macam, udah kita hitung, segitu kira-kira. Ada klaim dari MBG juga seperti itu,” tambahnya menekankan bahwa tidak ada dana yang menganggur.
Sentuhan kebijakan ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah untuk tetap menjaga janji kampanye di tengah tekanan kebutuhan anggaran tak terduga akibat bencana. Dengan perhitungan yang matang hingga tanggal 20 Desember, Kemenkeu meyakini bahwa setiap rupiah dalam pagu MBG telah memiliki “tuan” masing-masing, mulai dari klaim vendor hingga penyelesaian administrasi program di lapangan.
Melalui kepastian ini, pemerintah berupaya menunjukkan bahwa program penguatan gizi anak bangsa tetap menjadi prioritas utama tanpa harus mengorbankan stabilitas fiskal untuk kebutuhan mendesak lainnya.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














