Di Balik Cahaya Kota London, Para Migran Berjuang Saat Dunia Terlelap

0
migran
Ilustrasi orang-orang berlalu-lalang. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, LONDON — Fenomena yang dijuluki sebagai “hantu gentayangan” tengah menjadi sorotan di Inggris. Istilah ini bukan merujuk pada makhluk gaib, melainkan pada jutaan pekerja migran yang menopang ekonomi malam hari di saat sebagian besar penduduk Inggris terlelap.

Mengutip AFP, para pekerja migran tersebut umumnya bekerja di sektor-sektor informal dan layanan esensial, mengisi giliran kerja malam agar aktivitas usaha dan layanan publik dapat beroperasi selama 24 jam. Mulai dari logistik, kebersihan, hingga perawatan kesehatan, peran mereka dinilai krusial meski kerap luput dari perhatian.

“Kami adalah hantu di giliran kerja malam (night shift),” ujar Leandro Cristovao, migran asal Angola yang telah bekerja selama tujuh tahun di sebuah pasar di selatan London, dikutip Jumat (19/12/2025).

Leandro mengatakan sebutan itu menggambarkan dirinya dan ribuan migran lain yang bekerja saat kota tertidur, namun keberadaan mereka nyaris tak terlihat oleh masyarakat luas.

Dalam satu dekade terakhir, sektor kerja malam di Inggris yang mempekerjakan sekitar sembilan juta orang semakin bergantung pada tenaga migran. Data resmi tahun 2022 menunjukkan bahwa warga pendatang memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk bekerja semalaman dibandingkan warga kelahiran Inggris.

Baca Juga :  Barak Militer di Bogor Jadi Lokasi Pembinaan Pelajar Bermasalah, Koordinasi dengan Pemangku Kebijakan Dilakukan

Julius-Cezar Macarie, profesor sosiologi dari University College Cork, menilai kontribusi para migran ini sangat vital bagi keberlangsungan “masyarakat 24 jam”.

Tanpa mereka, kata Macarie, restoran tidak akan bisa buka, kantor-kantor tidak akan bersih saat pagi hari, dan layanan kesehatan berisiko lumpuh.

Namun, di balik peran penting tersebut, kerja malam membawa dampak serius terhadap kesehatan dan kehidupan pribadi para pekerja.

Roxana Panozo Alba (46), migran asal Bolivia, setiap malam membersihkan lebih dari 500 meja kantor di pusat distrik finansial London dari pukul 22.00 hingga 07.00. Ia memilih bekerja malam agar bisa menemani anak-anaknya di siang hari.

Dengan upah sekitar 13,85 pound (Rp277.000) per jam, Roxana mengaku kondisi fisiknya mulai terganggu.

“Bekerja malam itu merusak kesehatan. Anda harus tidur siang hari, tapi tidak bisa. Sedikit suara saja membuat Anda terbangun,” tuturnya.

Baca Juga :  “Unjuk Kreasi” Festival Desa Wisata 2025 Dorong Peningkatan Nilai Budaya dan Ekonomi Kreatif

Kondisi serupa dialami Omatule Ameh (39), perawat asal Nigeria yang bekerja di sebuah panti asuhan. Dengan upah minimum sekitar 12,20 pound (Rp244.000) per jam, ia sering kali hanya tidur sekitar tiga jam sehari karena harus menjaga anak-anaknya saat istrinya bekerja di siang hari. Tekanan mental dan emosional, menurutnya, semakin terasa.

Selain risiko kesehatan, para pekerja migran kini juga dihantui ketidakpastian akibat kebijakan baru Pemerintah Inggris yang memperketat izin kerja asing. Bulan lalu, pemerintah mengumumkan rencana memperpanjang masa tunggu bagi pekerja perawatan yang dianggap “kurang berkualifikasi” untuk mengajukan izin tinggal tetap, dari lima tahun menjadi 15 tahun.

Kebijakan lain yang melarang pekerja perawatan membawa keluarga ke Inggris juga memicu kesedihan di kalangan migran.

“Sangat menyedihkan. Anda di sini untuk merawat keluarga orang lain agar mereka bisa hidup normal, sementara keluarga Anda sendiri harus berada jauh di sana,” ujar Judith Munyonga, perawat asal Zimbabwe.

Baca Juga :  Cahaya di Ujung Terowongan? Survei Ungkap Pergeseran Sikap Amerika Terhadap China Setelah Bertahun-tahun Ketegangan

Meski berada dalam posisi rentan, para pekerja migran menyadari peran tawar mereka dalam ekonomi malam Inggris. Sandeep (21), lulusan ilmu komputer asal Nepal yang kini bekerja sebagai koki di kafe 24 jam, mengatakan ia terpaksa mengambil shift malam karena sulitnya mendapat pekerjaan di sektor teknologi dan meningkatnya persyaratan gaji minimum untuk visa kerja.

“Jika kami tidak bisa melakukannya (bekerja malam), saya pikir bos harus menutup tempat ini untuk giliran malam,” kata Sandeep.

Pandangan tersebut diamini oleh Martin Dykes, pemilik bisnis grosir di London. Ia mengaku sangat khawatir terhadap pembatasan visa baru karena semakin sulit mencari pekerja lokal yang bersedia bekerja pada malam hari.

Saat lampu-lampu apartemen mewah London padam, para “hantu” ekonomi malam ini terus bekerja memastikan restoran mendapat pasokan segar dan kantor-kantor siap digunakan keesokan pagi. Seperti yang dikatakan Leandro Cristovao, “saat mereka tidur, kami di sini.”***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com