Yen Merosot Meski Bank of Japan Naikkan Suku Bunga, Pasar Pertanyakan Kesehatan Fiskal Jepang

0
Bank of Japan
Ilustrasi Uang kertas Jepang. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, TOKYO – Di bawah langit musim dingin Tokyo, kecemasan baru mulai menyelimuti pasar keuangan Jepang. Meski Bank of Japan (BOJ) baru saja mengambil langkah berani dengan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam tiga dekade sebesar 0,75%, mata uang Yen justru terus merosot. Fenomena anomali ini menjadi sinyal kuat bahwa pasar tidak lagi sekadar menyoroti kebijakan moneter, melainkan mulai meragukan kesehatan kantong pemerintah.

Mantan anggota dewan kebijakan BOJ, Seiji Adachi, memberikan peringatan tajam bahwa Jepang sedang berada di persimpangan jalan yang berbahaya akibat kebijakan fiskal ekspansif di bawah pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi.

Kelemahan Yen kali ini terasa berbeda. Biasanya, pergerakan mata uang dipicu oleh selisih suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat. Namun, saat selisih itu menyempit, Yen justru tetap tak bertenaga. Adachi menilai ada faktor “keraguan pasar” yang lebih dalam terhadap kemampuan Jepang mengelola utangnya.

Baca Juga :  Ekonomi Iran Runtuh, Protes Massa Meletus Menyusul Mundurnya Gubernur Bank Sentral

Yen melemah meskipun selisih suku bunga Jepang-AS menyempit, yang berarti ini hampir tidak ada hubungannya dengan kebijakan BOJ,” ujar Adachi dalam wawancara dengan Reuters, Senin (22/12/2025).

Menurutnya, investor kini mulai berjaga-jaga dengan menuntut premi yang lebih tinggi atas risiko fiskal Jepang. Hal ini terbukti dari melambungnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun yang menyentuh angka 2,1% level tertinggi dalam 27 tahun terakhir.

Baca Juga :  Dari Brokoli hingga Selada, Sayuran Segar Kini Jadi Barang Mewah

Sentimen negatif pasar ini berakar dari rencana anggaran pertama PM Takaichi yang diprediksi menembus angka fantastis 122 triliun yen (sekitar Rp 13.200 triliun). Anggaran jumbo ini mencakup paket stimulus untuk meredam biaya hidup, namun konsekuensinya adalah penambahan utang baru yang masif.

Adachi memprediksi BOJ mungkin akan terus mengerek suku bunga hingga 1,5%, dengan kenaikan berikutnya pada Juli mendatang. Namun, langkah ini ibarat pisau bermata dua: menahan inflasi sekaligus membengkakkan biaya cicilan utang publik Jepang yang sudah sangat besar.

“Sangat sulit untuk menghapus keraguan pasar atas keuangan Jepang setelah Takaichi dengan begitu kuat mencitrakan kebijakannya sebagai kebijakan fiskal yang proaktif,” tegas Adachi.

Baca Juga :  Larangan TikTok di AS Picu Lonjakan Harga iPhone di eBay

Dinamika ini menciptakan bayang-bayang kelam bagi prospek ekonomi tahun depan. Dengan ketergantungan pada penerbitan obligasi baru yang diperkirakan melebihi 28,6 triliun yen, ruang gerak ekonomi Jepang menjadi semakin sempit.

Adachi memperingatkan bahwa jika pemerintah tidak segera menunjukkan komitmen pada kesehatan fiskal, lonjakan imbal hasil obligasi akan menjadi bom waktu. Ia menyebut situasi ini sebagai “risiko terbesar bagi ekonomi Jepang pada tahun 2026 mendatang.”

Kini, pasar menanti apakah narasi “kebijakan proaktif” Takaichi mampu membawa pertumbuhan, atau justru menjerumuskan Negeri Matahari Terbit ke dalam krisis biaya pendanaan yang tak terkendali.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com