Tim SAR Gelar Operasi Pencarian Pesawat Bawa 239 Orang yang Menghilang Secara Tiba-tiba

0
pesawat
Ilustrasi pesawat jatuh.FOto : Istock

NARASITODAY.COM, KUALA LUMPUR – Harapan yang sempat meredup selama lebih dari satu dekade kembali menyala. Pada Selasa (30/12/2025), operasi pencarian pesawat Malaysia Airlines MH370 dijadwalkan kembali membelah Samudra Hindia, membawa ambisi besar untuk memecahkan salah satu misteri penerbangan paling membingungkan dalam sejarah modern.

Pencarian terbaru ini bukan sekadar misi teknis, melainkan upaya terakhir untuk memberikan jawaban bagi keluarga dari 239 jiwa yang hilang bersama “burung besi” tersebut sejak 8 Maret 2014.

Pemerintah Malaysia melalui Kementerian Transportasi telah menyusun strategi baru yang akan berlangsung secara bertahap selama 55 hari. Dalam misi ini, Malaysia menggandeng kembali perusahaan robotika kelautan asal Amerika Serikat, Ocean Infinity.

Baca Juga :  Susah Tidur Saat Hamil? Coba 5 Cara Ini untuk Tidur Nyenyak

Kesepakatan kali ini tergolong unik dan berisiko tinggi. Menggunakan skema kontrak “no find, no fee”, Ocean Infinity bersedia menyisir area baru seluas 15.000 kilometer persegi di dasar samudra tanpa bayaran awal. Pemerintah Malaysia hanya akan merogoh kocek sebesar US$ 70 juta (sekitar Rp1,1 triliun) jika dan hanya jika puing-puing pesawat berhasil ditemukan. Meski begitu, pihak Ocean Infinity masih menutup rapat rincian teknis mengenai koordinat spesifik yang akan mereka sasar.

Sejarah pencarian MH370 adalah catatan tentang skala dan kegigihan. Sebelumnya, Australia, Malaysia, dan China telah mengaduk lebih dari 120.000 kilometer persegi dasar laut sebelum menyerah pada Januari 2017.

Meskipun pesawat yang mengangkut mayoritas warga negara China serta 38 warga Malaysia dan sejumlah warga Indonesia itu lenyap dari radar, jejaknya tak sepenuhnya hilang. Beberapa serpihan yang terkonfirmasi milik MH370 sempat terdampar di pesisir Afrika dan pulau-pulau di Samudra Hindia. Data pola hanyut (drift-pattern) inilah yang kini menjadi kompas utama dalam mempersempit lokasi pencarian di area dengan probabilitas tertinggi.

Baca Juga :  Zaskia Gotik Kembali Dikaruniai Buah Hati

Hingga kini, teori di balik jatuhnya pesawat tetap menjadi teka-teki. Investigasi tahun 2018 menyimpulkan bahwa pesawat diputar balik secara manual, bukan oleh sistem autopilot. Meski laporan tersebut menyebutkan adanya kemungkinan “campur tangan pihak ketiga”, kepastian mengenai apa yang sebenarnya terjadi di ruang kokpit malam itu tetap terkunci di dasar laut.

Baca Juga :  Pencarian Berakhir Tragis: Pendaki WN Korsel Ditemukan Meninggal di Gunung Agung

Bagi keluarga korban, pencarian ini adalah secercah cahaya di ujung lorong gelap yang panjang. Setelah bertahun-tahun hidup dalam spekulasi dan ketidakpastian, mereka berharap teknologi terbaru mampu membawa pulang kebenaran.

Danica Weeks, istri dari Paul Weeks, seorang penumpang asal Australia, menjadi salah satu sosok yang tetap teguh memelihara harapan di tengah ketidakmungkinan.

“Saya sangat berharap fase berikutnya ini memberikan kejelasan dan kedamaian yang sangat kami rindukan bagi kami dan orang-orang terkasih sejak 8 Maret 2014,” ungkapnya kepada Guardian.

Kini, mata dunia kembali tertuju ke arah selatan Samudra Hindia, menanti apakah detak sonar kali ini sanggup mengakhiri penantian panjang selama 11 tahun tersebut.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com