Manohara Minta Media Hentikan Penggunaan Istilah “Mantan Istri”

0
Manohara
Manohara Odelia Pinot. Foto : ndtv.com

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Selama belasan tahun, nama Manohara Odelia Pinot seolah tak pernah lepas dari bayang-bayang masa lalunya di Malaysia. Namun, pada Rabu (7/1/2026), aktivis perlindungan satwa liar ini memutuskan untuk bersuara lantang. Melalui sebuah surat terbuka yang menyentuh sekaligus tegas, ia meminta media berhenti melabelinya dengan sebutan “mantan istri”.

Bagi Manohara, istilah tersebut bukan sekadar status hukum, melainkan distorsi atas realitas pahit yang ia alami saat masih berusia remaja.

Manohara menyoroti bagaimana narasi media selama ini telah menyederhanakan sebuah tragedi menjadi istilah administratif yang tidak tepat. Ia menegaskan bahwa apa yang terjadi di masa lalunya bukanlah sebuah ikatan yang didasari atas cinta atau kesepakatan bersama.

Baca Juga :  Danur: The Last Chapter Resmi Diumumkan, Prilly Latuconsina Kembali Jadi Risa

“Selama bertahun-tahun, saya secara berulang kali disebut dalam artikel dan judul berita sebagai ‘Mantan Istri [blank].’ Saya menulis ini untuk dengan hormat menjelaskan bahwa deskripsi tersebut tidak akurat dan menyesatkan,” tulis Manohara dalam unggahan media sosialnya.

Ia menjelaskan bahwa peristiwa yang menyeret namanya ke pusaran konflik internasional pada tahun 2009 bukanlah sebuah pernikahan dalam arti yang sebenarnya. “Apa yang terjadi selama masa remaja saya bukanlah hubungan romantis, bukan hubungan yang disetujui, dan bukan pernikahan yang sah. Tidak pernah ada hubungan yang saya inginkan, setujui, atau masuk ke dalamnya secara sukarela,” sambungnya.

Surat terbuka ini membuka kembali lembaran hitam saat ibundanya, Daisy Fajarina, berjuang memulangkan Manohara dari Kelantan, Malaysia, dengan dugaan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Manohara menekankan bahwa saat itu dirinya masih di bawah umur, sebuah posisi di mana ia tidak memiliki kekuatan untuk memilih.

Baca Juga :  Bali Jadi Saksi Janji Suci Minah Girl's Day dan On Juwan

“Saat itu, saya masih di bawah umur dan berada dalam situasi paksaan dan keterbatasan kebebasan, artinya saya tidak memiliki pilihan nyata atau kemampuan untuk memberikan persetujuan,” ungkapnya.

Baginya, istilah “mantan istri” seolah memvalidasi sebuah hubungan dewasa yang sehat. “Penggunaan istilah ‘mantan istri’ menyiratkan hubungan dan pernikahan yang sah, sukarela, dan dewasa. Implikasi tersebut salah. Hal ini mengubah situasi paksaan menjadi hubungan yang sah dan mendistorsi kenyataan yang terjadi,” tegasnya lagi.

Baca Juga :  Prilly Latuconsina Beri Kejutan Datangi Pernikahan Fans di Yogyakarta

Kini, di saat dirinya telah menemukan ketenangan sebagai aktivis lingkungan dan pelindung satwa, Manohara menuntut perubahan dari industri media, termasuk mesin pencari dan platform digital.

“Saya meminta media Indonesia, editor, penulis, dan platform digital (termasuk Google dan Wikipedia) untuk menghentikan penggunaan label ini saat merujuk pada saya. Melanjutkan penggunaan artikel dengan penggambaran yang salah ini tidak hanya tidak akurat, tetapi juga merupakan jurnalisme yang tidak etis,” pungkasnya.

Pernyataan ini menjadi pengingat bagi publik dan media bahwa di balik sebuah label “status” yang disematkan, terdapat narasi manusiawi yang sering kali lebih kompleks dan menyakitkan daripada sekadar kata-kata di kolom berita.***

Editor : Alysa

Sumber : detik.com