Badai Goretti Lumpuhkan Eropa Utara, Ribuan Rumah Tanpa Listrik

0
Eropa
Ilustrasi badai salju. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, PARIS – Musim dingin yang biasanya tenang di Eropa berubah menjadi mencekam. Badai Goretti, monster cuaca yang membawa angin berkekuatan lebih dari 200 km/jam, telah melumpuhkan sebagian besar wilayah Eropa Utara. Sejauh ini, sedikitnya delapan orang dilaporkan tewas akibat cuaca ekstrem yang membekukan infrastruktur benua tersebut.

Di Prancis, kegelapan menyelimuti sekitar 380.000 rumah tangga pada Jumat (9/1/2026). Wilayah Normandia, Brittany, hingga pinggiran Paris (Ile-de-France) menjadi titik terparah. Tiang-tiang listrik tumbang dan kabel-kabel jaringan terputus diterjang angin yang menderu keras.

“Sebagian besar pemadaman terjadi akibat angin kencang yang merusak jaringan distribusi listrik,” ungkap penyedia listrik nasional Enedis dalam pernyataan resminya, dikutip dari AFP.

Kecepatan angin di wilayah Manche, Prancis barat laut, tercatat menyentuh angka fantastis: 216 kilometer per jam. Angka ini cukup untuk menumbangkan pohon-pohon tua dan merobek atap bangunan.

Baca Juga :  Sistem Perbatasan Digital Baru Uni Eropa Picu Kekacauan di Bandara, Penumpang Mengantre 5 Jam

Kondisi tak jauh berbeda terjadi di seberang selat. Inggris terpaksa mengeluarkan peringatan angin merah level tertinggi yang sangat jarang digunakan untuk wilayah Cornwall. Di sana, sekitar 65.000 rumah kehilangan aliran listrik saat suhu merosot tajam.

Selain angin, “selimut putih” yang mematikan juga turun dari langit. Salju setebal 30 sentimeter diperkirakan menimbun wilayah Wales dan Inggris utara. Perusahaan Kereta Api Nasional Inggris bahkan meminta warga untuk tetap berada di rumah.

“Berlindunglah dan jangan gunakan kendaraan Anda,” imbau Prefektur Manche dengan nada mendesak, meminta warga menyiapkan cadangan air dan penerangan darurat.

Baca Juga :  Kebakaran Mendadak di Stasiun Bogor, Asap dan Percikan Api Menghentikan Aktivitas Penumpang

Ke timur, Jerman tengah berjuang melawan suhu yang diprediksi anjlok hingga minus 20 derajat Celcius. Deutsche Bahn, operator kereta api nasional, harus mengerahkan pasukan besar-besaran untuk menjaga urat nadi transportasi tetap berdenyut.

“Lebih dari 14.000 pekerja dikerahkan untuk membersihkan salju dari rel dan peron,” tulis pernyataan resmi perusahaan tersebut.

Pakar meteorologi dari Layanan Cuaca Jerman (DWD), Andreas Walter, menyebut Badai Goretti sebagai fenomena anomali yang dipicu oleh perubahan iklim.

“Badai ini memang pengecualian setelah beberapa tahun musim dingin yang relatif lebih hangat. Masih mungkin terjadi bulan yang sangat dingin dan bersalju, tetapi kejadian seperti ini akan semakin jarang di masa depan,” jelas Walter kepada AFP.

Tragedi paling memilukan datang dari kawasan Balkan. Di Albania, keganasan Badai Goretti berubah menjadi banjir bandang yang merenggut nyawa. Polisi di kota Durres menemukan jenazah seorang pria yang terseret arus deras, menambah daftar panjang korban tewas dalam bencana ini.

Baca Juga :  Berawal dari PO Sembako, Berujung Kerugian Rp1,1 Miliar, Warga Puri Tenjo Geruduk Rumah Pelaku

Hingga berita ini diturunkan, sekolah-sekolah di Prancis utara dan Jerman masih ditutup. Eropa kini tengah bersiap menghadapi sisa-sisa amukan Goretti yang diprediksi masih akan bertahan selama beberapa hari ke depan, memperlihatkan betapa rapuhnya sistem modern ketika berhadapan dengan murka alam.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com