Produksi Jagung Tembus Makassar, Mutiara Siap Naik Kelas

0
Menteri Transmigrasi
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi, memberikan wejangan kepada Wakil Bupati Muna, La Ode Asrafil. Foto (Ist)

NARASITODAY.COM, JAKARTA- Subuh belum lama berlalu di Jakarta ketika Wakil Bupati Muna, La Ode Asrafil, melangkah masuk Gedung C Kantor Kementerian Transmigrasi di Kalibata, Kamis (15/1/2025).

Di ruang kerja Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi, ia membuka pertemuan dengan kalimat sederhana, namun sarat makna.

“Terima kasih atas dukungan program kegiatan di tahun 2025,” ujarnya.

Ucapan itu bukan basa-basi. Di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, dukungan tersebut telah menjelma menjadi bangunan nyata dan jalan yang kini dilalui warga setiap hari.

Di Kawasan Transmigrasi Mutiara yang juga dikenal sebagai Muna Timur Raya rehabilitasi lima gedung SD, pembangunan empat unit toilet sekolah, serta peningkatan jalan poros dan jalan lingkungan telah rampung.

Total hampir lima kilometer jalan kini lebih layak dilalui, membuka akses dan harapan.
Namun pertemuan itu bukan hanya soal laporan keberhasilan. La Ode Asrafil juga membawa agenda masa depan.

Baca Juga :  SDN Parakanmuncang 01 Aktif Berprestasi Meski Kekurangan Fasilitas

Ia menyampaikan harapan agar dukungan kementerian berlanjut di tahun anggaran 2026, dengan program yang lebih beragam, jembatan, talud, jalan penghubung, hingga jalan lingkungan yang menopang aktivitas warga.

Kawasan Mutiara sendiri bukan wilayah kecil. Lima kecamatan, Maligano, Wakorumba, Pasir Putih, Pasikolaga, dan Batukara menjadi rumah bagi lebih dari 25 ribu jiwa. Sejak dibuka pada 2010, kawasan ini tumbuh di lokasi strategis, tepat di jalur transit yang menghubungkan Buton Utara, Buton, Baubau, hingga Kendari.

Jalan negara membelahnya, sementara kapal feri dan bus Damri menjadi denyut transportasi sehari-hari.

Viva Yoga menyambut paparan itu dengan antusias. Bahkan, ia sempat tersenyum membahas nama kawasan tersebut.

Baca Juga :  Donat Ubi Ungu Panggang Tanpa Gula, Camilan Diet yang Bikin Ketagihan

“Mutiara itu nama yang sangat bagus,” katanya.

Menurutnya, nama itu tak sekadar indah, tapi juga sarat makna gabungan huruf dari nama-nama kecamatan di dalamnya, mirip filosofi penamaan Wakatobi.

Lebih jauh, Viva Yoga memberi apresiasi pada status lahan di kawasan transmigrasi itu. Clear and clean, tanpa sengketa. Hingga kini, 858 bidang lahan telah bersertifikat.

“Ini patut diapresiasi,” ucapnya.

Potensi ekonomi Mutiara juga tak luput dari sorotan. Jagung, kelapa, pisang, sapi bali, hingga ayam menjadi komoditas utama. Dari 517 hektare lahan jagung, produksi mencapai lebih dari 1.200 ton.

Jagung bahkan sudah menembus pasar Makassar. Sementara kelapa, dengan hampir 2.000 hektare lahan, menghasilkan 1.850 ton. Populasi sapi bali mencapai 4.633 ekor.

Baca Juga :  PAN Nilai Dinamika Parlemen Penting dalam Revisi UU Pemilu

Namun di balik potensi, ada persoalan. Peternak ayam baik petelur maupun pedaging mengeluhkan mahalnya pakan. Mendengar itu, Viva Yoga melempar gagasan strategis, industrialisasi pakan ternak di Mutiara.

“Rumah produksi pakan ternak perlu dibangun,” ujarnya.

Alasannya sederhana namun logis bahan baku jagung melimpah, tetapi pakan justru didatangkan dari luar daerah.

“Ironis kalau pakan dari Makassar bahan dasarnya justru jagung dari Mutiara,” katanya.

Melihat keseluruhan potensi tersebut, Viva Yoga menegaskan komitmennya. Kawasan Transmigrasi Mutiara, menurutnya, layak didorong menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sulawesi Tenggara bukan hanya untuk transmigran, tetapi juga masyarakat lokal.

“Kita dukung Mutiara sebagai kawasan pertumbuhan ekonomi baru,” tegas mantan anggota DPR RI dua periode itu.

Editor : Andreas

Sumber : Kementrian Transmigrasi