Iran Klaim 5.000 Tewas dalam Protes, Laporan HAM Sebut Angka Lebih Rendah

0
Iran
Ilustrasi bendera Iran. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, TEHERAN – Kabut duka dan ketegangan menyelimuti Republik Islam Iran seiring munculnya angka resmi mengenai skala korban jiwa dalam rangkaian protes yang meletus sejak akhir Desember lalu.

Seorang pejabat tinggi Iran mengungkapkan pada Minggu (18/1/2026) bahwa otoritas telah memverifikasi sedikitnya 5.000 orang tewas, sebuah angka yang menggambarkan betapa dahsyatnya bentrokan yang terjadi di jalanan.

Jumlah tersebut mencakup warga sipil dan sekitar 500 personel keamanan yang gugur di tengah kerusuhan yang kian kompleks.

Di tengah laporan mengenai aksi pembakaran dan barikade jalanan, wilayah Kurdi di barat laut Iran muncul sebagai titik paling berdarah. Kawasan yang secara historis menjadi basis aktivitas separatis ini kembali menjadi saksi bisu kekerasan paling intens antara massa dan aparat.

Baca Juga :  Kembali Memakan Korban, Industri Pertambangan Ilegal di Angola Tewaskan Puluhan Pekerja

Pejabat Iran yang menolak disebutkan namanya karena sensitivitas isu ini, menyampaikan kepada Reuters bahwa bentrokan terberat terjadi di sana. Ia juga menuding adanya campur tangan eksternal yang memperkeruh situasi domestik Iran.

“Jumlah akhir korban tidak diperkirakan akan meningkat tajam,” ujar pejabat itu, seraya menambahkan bahwa “Israel dan kelompok-kelompok bersenjata di luar negeri” telah mendukung dan mempersenjatai para demonstran yang turun ke jalan.

Pejabat tersebut dengan tegas menyalahkan apa yang disebutnya sebagai “teroris dan perusuh bersenjata” atas kematian “warga Iran yang tidak bersalah.”

Baca Juga :  Trump Umumkan Pemimpin Tren de Aragua Tewas dalam Operasi Militer AS di Venezuela

Narasi mengenai keterlibatan asing terus ditekankan oleh Teheran. Otoritas Iran secara rutin menunjuk Israel yang sempat meluncurkan serangan militer ke Iran pada Juni lalu sebagai dalang di balik gelombang ketidakstabilan ini. Namun, di balik retorika politik tersebut, angka-angka dari lembaga independen menyuguhkan perspektif yang berbeda.

Kelompok pemantau hak asasi manusia HRANA yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan data yang lebih rinci namun tak kalah mengerikan. Hingga Sabtu, mereka mencatat 3.308 kematian yang telah terverifikasi, sementara 4.382 kasus lainnya masih dalam proses peninjauan. Selain itu, lebih dari 24.000 orang dilaporkan telah ditangkap dalam operasi pengamanan besar-besaran.

Baca Juga :  Ketegangan Berkepanjangan dan Ketahanan Ekonomi Iran di Tengah Konflik Teluk

Senada dengan laporan pemerintah, kelompok hak asasi Kurdi Iran, Hengaw, yang berbasis di Norwegia, juga mengonfirmasi bahwa wilayah Kurdi menjadi zona tempur paling sengit. Suasana mencekam di barat laut Iran ini menjadi cerminan dari luka lama yang kembali terbuka di tengah gejolak politik nasional.

Hingga saat ini, meski pemerintah memprediksi jumlah korban tidak akan melonjak signifikan, ketegangan di berbagai sudut kota masih menyisakan trauma mendalam bagi warga Iran yang terjebak di antara aspirasi perubahan dan tindakan keras aparat keamaan.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber