NARASITODAY.COM, KAMPALA – Yoweri Museveni membuktikan dirinya sebagai sosok yang sulit tergoyahkan dalam panggung politik Afrika. Pemimpin veteran yang telah berkuasa sejak 1986 ini resmi mengamankan masa jabatan ketujuh sebagai Presiden Uganda. Berdasarkan hasil penghitungan suara yang diumumkan Sabtu (17/1/2026), Museveni menang telak dengan raihan 71,65 persen suara.
Di sisi lain, Bobby Wine, musisi yang bertransformasi menjadi politikus sekaligus rival terkuat Museveni, harus puas dengan perolehan 24,72 persen suara. Namun, di balik angka-angka kemenangan tersebut, Uganda dilingkupi atmosfer ketegangan dan kecurigaan.
Hari pemungutan suara pekan lalu berlangsung dalam kesunyian digital. Pemerintah memberlakukan pemadaman internet secara nasional, sebuah langkah yang disebut oposisi sebagai upaya menutupi kecurangan sistematis. Bagi Bobby Wine dan para pendukungnya, kemenangan Museveni adalah hasil dari proses yang cacat.
“Kecurangan sedang terjadi,” tegas Wine, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.
Sentimen serupa muncul dari para pengamat internasional. Meski tim pengamat tidak menemukan bukti langsung kecurangan dalam proses penghitungan fisik, mereka menyoroti iklim ketakutan yang sengaja diciptakan melalui intimidasi dan laporan penculikan terhadap tokoh-tokoh oposisi.
Mantan Presiden Nigeria, Goodluck Jonathan, yang mewakili pengamat pemilu dari Uni Afrika, mengecam gangguan akses informasi tersebut.
“Hal ini menimbulkan rasa takut dan mengikis kepercayaan publik terhadap proses pemilu. (Pemadaman internet) meningkatkan kecurigaan,” ujar Jonathan.
Bagi sebagian warga Uganda, Museveni adalah pahlawan yang membawa stabilitas dan pertumbuhan ekonomi setelah masa kacau pasca-kemerdekaan. Namun, bagi lawan politiknya, ia adalah pemimpin yang memimpin dengan tangan besi.
Selama masa kampanye, aparat keamanan dikabarkan terus membuntuti para penentang rezim. Bobby Wine sendiri mengaku harus terus berpindah tempat demi menghindari penangkapan setelah rumahnya sempat didatangi polisi dan tentara.
“Saya tahu bahwa para penjahat ini mencari saya di mana-mana, dan saya berusaha sebaik mungkin untuk tetap aman,” ungkap Wine dalam sebuah pernyataan.
Kemenangan ini memastikan dominasi Museveni akan terus berlanjut melampaui empat dekade. PBB sebelumnya telah memperingatkan adanya pola intimidasi dan penindasan terhadap demonstran oposisi yang dapat mencederai demokrasi di negara tersebut.
Kini, dengan masa jabatan baru di tangan, Museveni menghadapi tantangan besar: memulihkan kepercayaan publik yang tergerus dan membuktikan bahwa stabilitas yang ia tawarkan bukan sekadar kedok untuk melanggengkan kekuasaan di tengah kepungan kritik dunia internasional.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














