Kanselir Jerman Friedrich Merz Kritik Tingginya Cuti Sakit, Dorong Warga Bekerja Lebih Keras

0
Jerman
Ilustrasi seorang pria buruh pabrik yang sedang menghadap belakang. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, BERLIN – Di balik megahnya arsitektur industrial Jerman yang kini mulai meredup, sebuah kegelisahan besar sedang ditiupkan dari kursi kekuasaan. Kanselir Jerman, Friedrich Merz, secara terbuka melancarkan kritik tajam terhadap etos kerja warganya yang dinilai terlalu santai di tengah badai ekonomi yang mencekik negara tersebut.

Sorotan utama Merz tertuju pada tumpukan surat izin sakit yang kian menggunung. Berdasarkan data tahun 2024, rata-rata karyawan di Jerman mengambil 14,5 hari izin sakit per tahun nyaris tiga minggu waktu produktif yang hilang menguap begitu saja.

Saat berkampanye di Baden-Württemberg pekan lalu, Merz menggugat relevansi sistem surat izin sakit via telepon, sebuah “kemudahan” yang lahir di era darurat Covid-19. Baginya, di saat produktivitas nasional sedang terjun bebas, kemudahan tersebut justru menjadi beban.

Baca Juga :  Aliansi 51 Ormas Bogor Barat Tuntut Pemekaran, Ketua KPPKBB : Kami Ingin Hak Konstitusional Dipenuhi

“Apakah itu benar-benar tepat? Apakah itu benar-benar perlu? Pada akhirnya, kita semua harus bekerja sama untuk mencapai tingkat kinerja ekonomi yang lebih tinggi daripada yang kita capai saat ini,” ujar Merz sebagaimana dikutip dari Der Spiegel, Senin (19/1/2026).

Kanselir yang dikenal dengan pendekatan konservatif ini secara gamblang mendeklarasikan “perang” terhadap tren work-life balance dan wacana empat hari kerja seminggu yang tengah populer di daratan Eropa. Di mata Merz, Jerman tidak bisa mempertahankan kemakmurannya hanya dengan bekerja lebih sedikit.

Dalam pertemuan dengan kamar dagang industri setempat, ia menegaskan bahwa kerja keras adalah harga mati bagi masa depan Jerman.

Baca Juga :  Rumah Sakit MSF di Sudan Selatan Dihantam Serangan Udara

“Dengan konsep work-life balance dan empat hari kerja seminggu, kemakmuran yang dinikmati negara kita saat ini tidak dapat dipertahankan di masa depan. Itulah sebabnya kita harus bekerja lebih banyak,” tegasnya.

Sentilan Merz ini muncul bukan tanpa alasan. Jerman sedang berada di titik nadir setelah kehilangan akses energi murah pasca-sanksi terhadap Rusia pada 2022. Lonjakan harga listrik sebesar 14% dan gas hingga 74% telah memukul sektor manufaktur yang menjadi tulang punggung negara.

Ekonomi Jerman tercatat mengalami kontraksi berturut-turut pada 2023 dan 2024, sebuah penurunan tahunan ganda pertama sejak awal milenium. Merz menilai sistem kesejahteraan sosial Jerman yang terkenal dermawan kini sudah berada di ambang batas kemampuan.

Baca Juga :  5 Penyebab Sakit Kepala yang Terkait dengan Kesehatan Mata, Wajib Tahu!

“Negara kesejahteraan seperti yang kita miliki saat ini tidak lagi dapat dibiayai dengan apa yang mampu kita tanggung secara ekonomi,” ucapnya.

Namun, di tengah seruannya agar rakyat “mengencangkan ikat pinggang” dan bekerja lebih keras, Merz justru mengambil langkah berani di sektor pertahanan. Ia memprioritaskan anggaran besar demi ambisi membangun militer konvensional terkuat di Eropa.

Kini, warga Jerman berdiri di persimpangan jalan diantara mempertahankan kenyamanan hidup yang mulai goyah, atau kembali ke tradisi kerja keras demi membiayai ambisi besar sang Kanselir di panggung keamanan dunia.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com