Kerja Terasa Ngebut? 5 Jurus Ampuh untuk Pelan Ngerem Diri

0
kerja
Ilustrasi seorang pekerja kantoran wanita dan memegang secangkir kopi. Foto : Istock

NARASITODAY.COM – Ritme kerja yang “ngebut” kerap dianggap sebagai tanda produktivitas. Notifikasi tak henti berbunyi, tenggat waktu berlapis, dan tuntutan multitasking membuat banyak pekerja merasa harus terus berlari. Namun, tanpa disadari, kecepatan berlebih justru bisa menguras energi, menurunkan kualitas kerja, hingga memicu kelelahan mental.

Psikolog kerja menyebut, bekerja tanpa jeda ibarat mengemudi dengan pedal gas diinjak penuh tanpa pernah menyentuh rem. Cepat, tapi berisiko. Untuk itu, penting bagi pekerja belajar memperlambat ritme tanpa harus kehilangan performa. Berikut lima jurus ampuh untuk “ngerem” diri di tengah kesibukan kerja.

  1. Tentukan Prioritas, Bukan Sekadar Sibuk
    Kesibukan sering kali disamakan dengan produktif. Padahal, tidak semua pekerjaan memiliki tingkat urgensi yang sama. Menyusun daftar prioritas harian membantu memusatkan energi pada tugas paling penting, bukan sekadar menyelesaikan sebanyak mungkin pekerjaan.
  2. Terapkan Jeda Mikro
    Berhenti sejenak selama 5–10 menit setiap satu hingga dua jam terbukti dapat mengembalikan fokus. Jeda singkat ini bisa diisi dengan peregangan, menarik napas dalam, atau sekadar menjauh dari layar gawai.
  3. Kurangi Multitasking
    Melakukan banyak hal sekaligus kerap dianggap efisien, padahal justru memperlambat otak dalam memproses informasi. Fokus pada satu tugas dalam satu waktu membuat pekerjaan selesai lebih cepat dan hasilnya lebih optimal.
  4. Tetapkan Batas Jam Kerja yang Jelas
    Bekerja melewati jam seharusnya bukan solusi jangka panjang. Menentukan waktu mulai dan selesai kerja membantu tubuh dan pikiran beradaptasi dengan ritme yang lebih sehat, sekaligus mencegah kelelahan berkepanjangan.
  5. Dengarkan Sinyal Tubuh
    Lelah, sulit fokus, atau mudah emosi adalah alarm alami tubuh. Mengabaikannya hanya akan memperburuk kondisi. Saat sinyal ini muncul, memperlambat langkah bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.
Baca Juga :  Benarkah Kolang-kaling Baik untuk Tulang? Ini Penjelasan Dokter Gizi

Pada akhirnya, produktivitas bukan soal seberapa cepat bekerja, melainkan seberapa berkelanjutan ritme yang dijalani. Dengan menekan pedal gas secukupnya dan sesekali menginjak rem, pekerjaan tetap tuntas tanpa mengorbankan kesehatan fisik dan mental.***

Baca Juga :  Lapangan Kerja Meluas Seiring Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal III 2025

Editor : Alysa

Sumber : idntimes.com