NARASITODAY.COM – Suasana tenang dan khusyuk menyelimuti umat Muslim di berbagai penjuru tanah air seiring dengan bergantinya kalender Hijriah. Berdasarkan perhitungan astronomi, 1 Syakban 1447 H diperkirakan jatuh pada Selasa, 20 Januari 2026. Momen ini bukan sekadar pergantian bulan, melainkan gerbang spiritual terakhir sebelum menyongsong bulan suci Ramadan.
Syakban memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam. Bulan ini diyakini sebagai waktu di mana seluruh amal kebaikan manusia diangkat dan dilaporkan langsung kepada Allah SWT. Tak heran, saat senja mulai meredup di ufuk barat menuju malam 1 Syakban, banyak umat Muslim mulai membasahi bibir mereka dengan doa-doa permohonan keberkahan.
Sebagai bentuk kerinduan akan bulan puasa, doa yang paling populer dan dianjurkan untuk diamalkan adalah:
“Allahumma baarik lanaa fii rajaba wa sya’baana wa ballighnaa ramadhaana.” Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syakban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadan.”
Selain doa keberkahan, para ulama juga menganjurkan doa khusus sebagai bentuk ikhtiar spiritual agar setiap hamba diberikan kesehatan dan kesempatan untuk bertemu dengan bulan suci. Doa ini menjadi jembatan harapan agar amal ibadah yang akan datang diterima dengan sempurna.
“Allaahumma sallimnii liramadhaana wasallim lii ramadhaana wa tasallam-hu minni mutaqabbalan.” Artinya: “Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadan, dan antarkanlah Ramadan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadan.”
Memasuki pertengahan bulan, umat Muslim akan menantikan malam Nisfu Syakban, puncak kemuliaan di mana ampunan Allah SWT tumpah ruah bagi hamba-hamba-Nya. Di malam tersebut, terdapat doa panjang yang mengandung permohonan perlindungan dari kesempitan rezeki dan catatan nasib buruk:
“Allâhumma yâ dzal manni wa lâ yumannu ‘alaik… Allahumma in kunta katabtanî ‘indaka fî ummil kitâbi syaqiyyan aw mahrûman aw muqtarran ‘alayya fir rizqi, famhullâhumma fî ummil kitâbi syaqâwatî wa hirmânî waqtitâra rizqî…” Artinya: “Wahai Tuhanku yang maha pemberi, engkau tidak diberi… Tuhanku, jika Kau mencatatku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku. Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufiq untuk berbuat kebaikan…”
Membaca doa-doa ini bukan sekadar rutinitas lisan, melainkan upaya menumbuhkan rasa syukur dan memperkuat keimanan. Syakban tahun 2026 ini diharapkan menjadi momentum bagi umat Islam untuk memicu semangat ibadah melalui selawat, sedekah, dan membaca Al-Qur’an, sehingga saat fajar Ramadan terbit, jiwa telah siap dalam keadaan yang paling fitri.***
Editor : Alysa
Sumber : idntimes.com














