Bom Mobil Guncang Konvoi Komandan Senior di Aden, Upaya Damai Yaman Kembali Teruji

0
bom mobil
Bom mobil mengguncang pinggiran Kota Aden, Yaman, menewaskan lima orang dan melukai tiga lainnya.Foto : AP Photo/Wael Qubady

NARASITODAY.COM, ADEN – Rapuhnya harapan perdamaian di Yaman, dentuman keras bom mobil kembali memecah ketenangan di pinggiran kota Aden. Sebuah iring-iringan kendaraan militer yang membawa komandan senior pro-pemerintah menjadi sasaran ledakan maut pada Rabu (21/1/2026), menyisakan duka sekaligus peringatan keras bagi stabilitas keamanan negara tersebut.

Insiden tragis ini menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai tiga lainnya. Target utama serangan ini adalah Hamdi Shukri, sosok berpengaruh yang menjabat sebagai komandan senior di Brigade Giants (Brigade Raksasa), sebuah unit militer elit yang berafiliasi dengan pemerintah dukungan Arab Saudi.

Suasana di area Ja’awla, utara Aden, berubah mencekam saat sebuah bom yang dipasang di pinggir jalan meledak tepat ketika konvoi Shukri melintas. Serpihan besi dan debu membubung tinggi, menghancurkan kendaraan dalam iring-iringan tersebut.

Baca Juga :  Mantan Komandan IRGC Tuduh Arab Saudi Miliki Senjata Nuklir, AS dan Israel Disebut Mengetahui

Meski serangan dirancang untuk mematikan, Hamdi Shukri berhasil lolos dari maut. Sumber medis mengonfirmasi bahwa sang komandan hanya mengalami luka ringan akibat serpihan peluru pada bagian kakinya. Namun, bagi lima orang di sekitarnya, perjalanan hari itu berakhir di jalanan berdebu Aden.

Pemerintah Yaman melalui Dewan Kepemimpinan Kepresidenan bereaksi cepat. Mengutip kantor berita Saba, mereka menyebut ledakan ini sebagai “upaya putus asa” untuk menyabotase kemajuan nyata dalam proses perdamaian yang tengah diupayakan bersama Arab Saudi.

Dalam pernyataan resminya pada Jumat (23/1/2026), Dewan Kepemimpinan mengeluarkan seruan tegas kepada seluruh elemen bangsa

Baca Juga :  KLH Ungkap Mahalnya Investasi Proyek Sampah Jadi Energi Listrik

“Pemerintah Yaman menyerukan kepada seluruh kekuatan nasional dan komponen politik untuk merapatkan barisan menghadapi kekacauan dan terorisme. Perbedaan politik tidak membenarkan sikap diam saat negara sedang menjadi sasaran.”

Kecaman serupa datang dari Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) untuk Yaman. Pihak AS melabeli insiden tersebut sebagai “serangan tanpa alasan terhadap konvoi militer yang berafiliasi dengan pemerintah Yaman,” yang dikhawatirkan dapat memicu eskalasi baru.

Serangan ini terjadi di tengah labirin geopolitik yang kian rumit. Sejak pemberontak Houthi menggulingkan pemerintahan di Sanaa pada 2014, Yaman telah menjadi medan tempur salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Baca Juga :  Pemulung Rongsokan Temukan Granat Nanas Masih Aktif Disaluran Irigasi

Kini, tantangan tidak hanya datang dari garis depan melawan Houthi, tetapi juga dari keretakan internal koalisi antara faksi dukungan Arab Saudi dan Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung Uni Emirat Arab.

Hingga saat ini, belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas ledakan di Ja’awla. Namun, pemerintah Yaman menegaskan tidak akan tinggal diam dan berjanji mengambil “langkah praktis dan tegas” untuk membongkar jaringan di balik aksi teror ini. Di Aden, garis kuning polisi dan puing kendaraan kini menjadi pengingat bahwa jalan menuju perdamaian permanen masih terjal dan penuh ranjau.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com